This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan

6/09/2010

SELAMAT DATANG PIALA DUNIA AFRIKA SELATAN 2010

SELAMAT datang putaran final Piala Dunia 2010 di Afsel. Tim dunia ketiga (terutama Asia dan Afrika) akan memiliki peluang menunjukkan kualitas menggelar “showbiz” raksasa. Di lapangan mungkin saja kita menemukan kejutan mirip Piala Dunia 2002 (di Jepang/Korea) terulang, ketika Korsel dan Turki melaju ke final.

Di layar TV, potensi penonton yang akan menyaksikan partai-partai Piala Dunia 2010 diperkirakan akan mencapai jumlah 31 milyar. Angka ini disebut sebagai angka paling realistis karena perhitungan optimis di atas kertas menyebutkan jumlah penonton TV hingga 32 milyar penduduk dunia.

Afsel 2010, adalah Piala Dunia di mana negara-negara Afrika akan berpeluang menembus semifinal dan final. Menjadi juara dunia ? Dalam sepak bola setiap kemungkinan bisa terjadi

Tentu saja sepak bola tak selalu diterima dengan lapang dada. Tak usah membahas AS yang memang alergi terhadap sepak bola. Beberapa negara yang gemar sepak bola pun mengalami protes dari penonton. “Terlalu banyak tayangan sepakbola di TV”, sebut para kritikus.

Di Indonesia, kita mengenal dekat pemain-pemain Italia lewat tayangan langsung setiap akhir pekan. Hal yang sama berlaku untuk pemain-pemain Inggris di Liga Utama Inggris lewat salah satu stasiun TV kita. Liga Spanyol dan Jerman juga bukan hal asing bagi penonton sepak bola di tanah air.

Para nasionalis sepak bola akan berandai-andai jika sepakbola nasional kita bisa sepopuler Liga Inggris atau Italia di stasiun TV kita sendiri. Kalau salah satu caranya dengan membatasi tayangan langsung Liga-liga sepakbola Eropa, kenapa kita harus selalu menomorduakan liga nasional Indonesia ?

Mekanisme popularitas sepak bola tak bekerja secara sederhana. Sepak bola masa kini hanya mengenal satu mekanisme, yakni bisnis. Sepak bola sendiri sebagai suatu permainan tak pernah berubah, tetapi hal-hal di sekeliling sepak bola berubah total.

Selebriti, iklan, proyek raksasa, citra bangsa dan negara, hingga IT dan hak siarTV merupakan santapan penggemar sepakbola dunia. Kita seakan tak lagi peduli di mana Piala Dunia sepak bola dimainkan. Kalau Piala Dunia 2006 dimainkan di Jerman, apakah timnas Jerman kemudian akan melenggang kangkung ke tangga juara ? Ternyata tidak.

Jika PD 2010 dimainkan di Afsel, apakah kita akan kesulitan menyaksikan siaran langsung pertandingan demi pertandingan ? Lagi-lagi jawabnya, tidak ! Piala Dunia 2010 akan datang ke rumah kita lewat layar TV setiap hari. Kendalanya hanya pada siklus kehidupan kita yang berbeda 5 jam dengan aktivitas kehidupan di Afsel.

Sepak bola atau Piala Dunia itu sendiri akan menjadi penting jika semuanya bisa dikemas dalam sebuah “showbiz” spektakuler. Tuan rumah hanya perlu mengurusi persiapan berskala raksasa, termasuk membangun stadion dan infrastruktur, FIFA akan mengatur segala sesuatu yang menjamin kembalinya modal yang sudah ditanam lewat sponsor.

Orang butuh tontonan sebuah partai final yang perlu bintang. FIFA harus menyajikan sebuah partai klimaks yang kali ini menarik sekira 30 milyar penonton di seluruh dunia. Apalah artinya tim Inggris tanpa Rooney atau Gerrard? Apa pula arti tim Spanyol tanpa Fabregas atau Iniestai ?

Milyaran dolar yang diguyurkan untuk menggelar pesta sepak bola Piala Dunia 2010 akan kita saksikan hasilnya tak sampai tiba bulan mendatang. Prestasi di lapangan seyogyanya sepadan dengan perputaran uang yang dikucurkan.
OLEH: Johnny F. Tamaela
SUMBER
Share:

3/07/2010

Resolusi Dieng dan Situs-situsnya

Dua tokoh perempuan beda generasi bertutur soal isu penyelamatan lingkungan. Seorang Poppy Susanti Dharsono (58) mencemaskan efek penggurunan dengan contoh dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Seorang lainnya, yaitu Inayah Wulandari (27), menandaskan secara politis mengutip almarhum ayahnya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yaitu ”sekalipun negara berdaulat jika tidak memerhatikan lingkungan sama saja tidak berdaulat”.

Keduanya memang dikenal publik. Tetapi, bukan karena aktivitas pembelaan lingkungan mereka. Ketika mereka berbicara, ini menandakan bahwa kerusakan lingkungan sudah membuat gerah setiap orang, apa pun profesinya.

Poppy dikenal malang melintang dalam hal perancangan busana. Ia sekarang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2009-2014 daerah pemilihan Jawa Tengah. Pada Jumat (8/1) lalu ia menggelar konferensi pers sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik setelah menjalani masa reses ke Jawa Tengah, wilayah konstituennya, antara 11-31 Desember 2009.

Poppy meresahkan prediksi, 10 tahun ke depan dataran tinggi Dieng akan berubah menjadi gurun. Ia tidak langsung menukik pada persoalan penghutanan kembali Dieng. Tetapi, meminta pemerintah agar segera merevitalisasi bangunan-bangunan arkais peninggalan Mataram Hindu di Dieng. ”Pemerintah harus menengok Machu Picchu (kota Inca yang hilang) di Peru,” ujar Poppy.

Machu Picchu, tatanan kota arkais peninggalan suku Inca di Peru yang kini menjadi satu di antara tujuh keajaiban dunia yang baru.

”Tidak mustahil banyaknya candi Hindu di Dieng menjadi pesona wisata masa lalu, seperti Machu Picchu. Candi-candi itu peninggalan wangsa Syailendra abad VIII. Itu berpotensi menjadi ’Machu Picchu’-nya Indonesia,” kata Poppy.

Charlie Chaplin singgah

Revitalisasi tempat bersejarah di Dieng diharapkan bisa memberikan pendapatan baru dari sektor pariwisata. Ekonomi masyarakat setempat diharapkan membaik. Lalu, masyarakat tidak lagi bertumpu pada hidup bercocok tanam di lahan yang semestinya dijaga sebagai hutan. ”Pada tahun 1920-an Charlie Chaplin (1889-1997) pernah singgah ke Dieng. Tentunya Dieng dulu sangat indah,” ujar Poppy.

Memulihkan hutan dan merevitalisasi potensi keekonomian lainnya yang bersifat otentik lokal dan unik, menurut Poppy, pada akhirnya akan menunjang daya saing pada era perdagangan bebas di negara-negara ASEAN-China seperti sekarang.

Berikutnya, Inayah. Ia hadir sebagai salah satu narasumber forum Pandangan Lingkungan 2010 (Environmental Outlook 2010) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) di Jakarta Media Center (JMC).

Kehadirannya sekaligus mewakili keluarga besar Gus Dur. Ia diundang untuk menyaksikan prosesi penobatan almarhum ayahnya sebagai pejuang penyelamat lingkungan oleh Walhi.

Pada kesempatan berbicara, Inayah tidak menyampaikan apa saja yang sudah dilakukan Gus Dur demi penyelamatan lingkungan. ”Kita bisa googling (mencari informasi dari situs internet) kalau ingin melihat kebijakan beliau semasa menjadi presiden,” ujar Inayah.

”Saya hendak menyampaikan hal-hal yang tidak pernah diketahui publik mengenai Gus Dur,” kata Inayah.

Dia mengutarakan, almarhum ayahnya memiliki perhatian terhadap keteraturan hal-hal kecil. ”Seperti ritual pagi setelah mandi, biasa memakai obat ketek sebelum menyisir rambut. Ketika ada ajudan yang keliru menyampaikan sisir dulu sebelum obat ketek, Gus Dur tidak akan menerima sisir itu. Gus Dur akan diam saja sampai diberikan obat ketek sesuai yang biasa dilakukan,” ujar Inayah.

Berangkat dari keteraturan hal-hal kecil, Gus Dur memegang prinsip-prinsip hal besar, seperti mengenai kedaulatan suatu bangsa. Negara berdaulat yang tak mampu memerhatikan isu lingkungannya sama saja tak berdaulat.

Resolusi 2010

Isu melawan fenomena penggurunan dilontarkan Poppy. Isu menegakkan kedaulatan bangsa dengan memerhatikan lingkungan disampaikan Inayah. Kedua hal itu segaris dengan resolusi 2010 yang ingin dikejar Walhi, yaitu revolusi ekologi.

Direktur Eksekutif Walhi Berry Nahdian Forqan menyampaikan, revolusi ekologi untuk mewujudkan keadilan ekologi, reformasi agraria sejati, dan industrialisasi nasional. Revolusi ekologi untuk menghadang kepentingan segelintir pemilik modal yang mengeruk sumber daya alam kita dan merusak lingkungannya.

Seperti berlangsung di Dieng sekarang. Keadilan ekologi sulit terwujud akibat reformasi agraria sejati tidak berlangsung. Lahan petani

tidak ditopang tata ruang yang tegas. Lahan petani kian tergusur. Petani terpaksa mendobrak tatanan ekologi, seperti menciutkan, bahkan membabat habis hutan yang ada sebagai pengganti sawah-ladang mereka.

Penggurunan di Dieng mengundang gagasan menghadirkan ”Machu Picchu” Indonesia melalui tatanan candi kuno yang tersisa dari Kerajaan Mataram Hindu abad VIII nan eksotis. Tujuan akhirnya sama dengan revolusi ekologi, yaitu menyelamatkan lingkungan Dieng yang kian merana.

Mampukah pemerintah mencernanya?

sumber





Share:

50 Milyar Koneksi Internet pada Tahun 2020

Berkembangnya teknologi informasi semakin memudahkan manusia dalam mengakses informasi. Misalnya, makna istilah yang baru atau asing bagi seseorang dapat mudah ditemukan hanya dengan mengetikkan rangkaian hurufnya di search engine. Internet menjadi konsumsi yang tak terelakkan. Diperkirakan, pada tahun 2020 ada 50 miliar koneksi yang akan tercipta.

Customer Technology Director Ronni Nurmal mengatakan angka signifikan ini bukan soal pertambahan jumlah penduduk atau manusia namun setiap orang akan memiliki sejumlah koneksi khusus dalam kehidupannya.

"Misalnya, satu orang punya koneksi komunikasi melalui mobile phone, dari teknologi yang sama dia bisa mengontrol pintu dan lampu di rumahnya dari mana saja," tuturnya Media Workshop Ericsson dan Gathering di Hotel Sheraton Bandung, Jumat (5/3/2010).

Selain bisa mengontrol rumahnya melalui koneksi internet, orang juga akan tertolong untuk mengelola bisnisnya dengan lebih efisien dan bisa bertahan dengan metode baru menjaga keselamatan dan keamanan.

Ronni menekankan capaian 50 miliar koneksi itu bukan mimpi karena pada tahun 2010 saja tercatat sudah ada 7.5 miliar koneksi. Bayangkan saja, setiap orang sekarang tidak hanya memiliki satu subscribtion, misalnya satu nomor mobile phone. Paling tidak, satu orang memiliki dua nomor yang terkoneksi dengan jaringan. Dari jaringan itu, mereka menggunakan berbagai koneksi, misalnya internet banking atau home office.

Sementara itu, di masa depan, metode telemedicine juga akan membuat target semakin riil untuk dicapai. Dengan telemedicine, kondisi kesehatan bisa dipantau dan diawasi oleh dokter melalui online karena riwayat kesehatannya tercatat rapi.

Untuk mewujudkannya, Ronni menambahkan butuh jalan tol untuk menampung segala aplikasi yang dibutuhkan di berbagai macam koneksi. Teknologi mobile broadband Long Term Evolution (LTE) atau yang dikenal dengan 4G menjadi solusinya.

Di sejumlah negara, pengembangannya serius. Di Indonesia, perwujudannya masih jauh dari harapan jika pemerintah tidak berkeinginan segera melakukan pengaturan.
sumber





Share:

3/06/2010

Aktivis Lingkungan Bali Kampanyekan "World Silent Day"

Sejumlah aktivis lingkungan Bali, gabungan dari empat LSM, yakni Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup, Wisnu, dan Bali Organic Association, sore ini, Sabtu (6/3/2010), menggelar aksi kampanye World Silent Day atau Hari Hening Sedunia di kawasan wisata Kuta, Bali.
20 ribu ton emisi berhasil dikurangi setiap hari raya Nyepi di Bali.

Dengan membawa sejumlah atribut bertemakan World Silent Day, para aktivis mengajak masyarakat dan wisatawan di sekitar monument bom Bali, Legian, hingga pantai Kuta untuk ikut melakukan World Silent Day, yakni tidak berkendara kendaraan bermotor dan menyalakan alat-alat elektronik selama empat jam pada 21 Maret mendatang.

World Silent Day merupakan hasil gagasan Triple-C, colaboration for climate change, yakni gabungan LSM Bali saat konferensi global warming, UNFCCC, di Bali pada 2007. Inspirasi untuk melakukan World Silent Day ini berasal dari kearifan budaya lokal, hari raya Nyepi. ”Sebanyak 20.000 ton emisi berhasil dikurangi setiap hari raya Nyepi di Bali,” ujar Herni Frilia Hastuti, sukarelawan World Silent Day.

Selama tiga tahun ini, kampanye World Silent Day tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi juga telah digaungkan hingga Jerman dan Australia. ”Harapan kami, seluruh dunia akan melakukan World Silent Day karena dampaknya untuk mengurangi gas rumah kaca dan memperkecil dampak pemanasan global sangat besar,” ungkap Herni Frilia.





Share:

10/16/2009

Mengapa Orang Mudah Menjadi Teroris?

Indonesia rawan terorisme. Bukan hanya jadi sasaran teror, sekaligus tempat persemaian yang subur bagi teroris. Ini merupakan hal yang layak kita renungkan. Kondisi psikologis seperti apa yang mendorong orang-orang muda berusia produktif itu menjadi teroris?

Terorisme dapat diartikan sebagai gerakan suatu kelompok yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Bila demikian, berarti terorisme dapat berupa gerakan dari penguasa maupun dan rakyat, tanpa membedakan siapa sasarannya.

Yang akan dibahas adalah terorisme dalam arti gerakan suatu kelompok bawah tanah yang dilandasi ideologi tertentu dalam melakukan perlawanan terhadap pemegang kekuasaan dengan melakukan aksi kekerasan atau ancaman terhadap keselamatan anggota masyarakat.

Pengungkapan kasus-kasus terorisme di Indonesia menunjukkan, banyak orang muda berhasil direkrut menjadi anggota kelompok teroris. Di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah ditemukan fakta yang mengarah sebagai bukti adanya pembinaan terhadap orang-orang muda menjadi anggota teroris.

Padahal, terorisme pada umumnya berkembang di daerah-daerah yang secara sosial politik mengalami konflik atau penindasan. Antara lain terorisme di Irlandia (masa konflik Inggris-Irlandia), terorisme dalam konflik Israel-Palestina. Daerah-daerah terjadinya separatisme, seperti Aceh beberapa waktu lalu, juga Papua, merupakan daerah yang rawan terorisme.

Bila kondisi sosial-politik tidak cukup kuat menjadi alasan berkembangnya aksi teror, kita perlu lebih sungguh-sungguh menengok kondisi sosial psikologis yang mungkin melatarbelakangi perkembangan kelompok teroris. Kita perlu ambil bagian dengan membangun kondisi psikologis yang mendukung orang-orang muda mengembangkan diri secara konstruktif, tanpa jalan kekerasan.

Gambaran sekilas
Bila kita bayangkan, seorang teroris adalah sosok yang ambil bagian dalam penyerangan dengan senjata atau bom, entah sebagai penyusun strategi, perakit bom, pelaku penyerangan/peledakan, dan sebagainya. Mereka siap bertindak tanpa memedulikan penderitaan banyak orang yang menjadi korban.

Antara korban dengan teroris sejatinya tidak memiliki persoalan apa pun. Itulah yang kita saksikan dalam kasus, seperti bom Bali I dan II, dan pengeboman di Jakarta. Jadi siapakah sebenarnya musuh mereka? Tidak jelas.

Bila mereka bertindak dengan ideologi tertentu atas nama agama, adakah pihak yang menindas agama yang mereka bela? Bila ya, siapakah penindasnya? Mengapa mereka tidak langsung saja menyerang pihak-pihak yang secara riil menindas? Tampak bahwa mereka sebenarnya tidak berdaya berhadapan dengan musuh, sehingga menyerang pihak yang bukan semestinya.

Bahwa tindakan itu dibalut rasa kepahlawanan, mungkin hanya merupakan mekanisme psikologis yang mereka ciptakan sebagai kompensasi atas ketidakberdayaan yang dialami. Bahwa mereka bertindak menyerang dengan sasaran yang bukan musuh ril, berarti mereka menyerang lebih karena kondisi psikologis yang dikuasai rasa permusuhan, tanpa objek yang jelas.

Dorongan agresi dahsyat yang terpendam mungkin berakar pada masa kecil yang banyak mengalami kekecewaan. Pelampiasan dorongan agresi dapat melalui saluran bermacam-macam. Namun, bahwa sebagian orang merasa cocok bergabung dengan kelompok teroris, ini menunjukkan bahwa dorongan agresi mereka berkaitan dengan kebutuhan tertentu, yang jawabannya mereka temukan dalam keanggotaan sebagai kelompok teroris.

Menjawab kebutuhan?
Kekerasan merupakan ciri utama dari terorisme. Ciri lainnya adalah membentuk kelompok bawah tanah, menggunakan ideologi tertentu sebagai landasan gerakan, dan adanya perlawanan terhadap pemegang kekuasaan. Unsur-unsur ini mungkin merupakan jawaban atas kebutuhan psikologis orang-orang tertentu yang berpotensi jadi teroris.

Kelompok merupakan sumber harga diri bagi seseorang. Dengan bergabung dalam suatu kelompok, seseorang dapat memenuhi kebutuhan akan identitas sosial. Dengan demikian, kelompok menjadi sumber harga diri terutama bagi individu yang mengalami rasa keterasingan.

Dengan ideologi kuat disertai loyalitas yang tinggi terhadap pimpinan dan organisasi, anggota teroris akan mengalami suatu totalitas sebagai pribadi. Hal ini mungkin merupakan jawaban atas keadaan jiwanya yang semula mengalami kekaburan identitas, gambaran diri negatif, serta tak adanya figur atau institusi yang memungkinkan ia mengalami totalitas.

Seseorang merasa cocok menjadi anggota kelompok terorjis tentu karena terdapat kesesuaian antara misi kelompok dengan kebutuhan atau nilai-nilai pribadinya. Dengan melakukan perlawanan terhadap pemegang kekuasan melalui jalur bawah tanah, tampaknya ini merupakan saluran yang "tepat" bagi dorongan bawah sadar berupa tumpukan amarah terpendam terhadap figur pemegang otoritas.

Perlawanan terhadap pemegang kekuasaan saat ini mungkin merupakan manifestasi kemarahan terpendam terhadap otoritas yang menindasnya pada masa kecil, yang mungkin saja adalah orangtua sendiri.

Begitu banyak orang, bahkan banyak yang menyebut diri religius, tidak belajar pelajaran mencintai (termasuk berdoa untuk mengampuni) musuh-musuh mereka. Mereka malah membenci, menggugat, protes, dan menyingkirkan musuh mereka; menjadi teroris di dalam hati mereka sendiri, di komunitas mereka, dan akhirnya di dunia.

Jadi, pada akhirnya terorisme menunjuk pada satu kenyataan pahit kondisi psikologis. Satu-satunya masalah yang tidak terselesaikan adalah masalah menolak solusi. Tuntutan teroris politik tidak lain adalah meminta orang lain untuk mengakui "kesalahan" dan mengubah perilaku mereka.

Bahkan, ketika terancam dengan perang dan kehancuran, ia akan menolak negosiasi karena negosiasi memerlukan kesediaan untuk meletakkan harga diri. Terjebak dalam masalah menolak solusi, ia menolak untuk menerima solusi nyata: bahwa ia sendiri harus hidup sesuai dengan nilai-nilai kejujuran dan integritas yang ia tuntut dari orang lain.

Dalam penolakan, ia mencemarkan hal yang sangat diinginkannya. la mencemarkan cinta. Demikianlah, teroris yang paling menakutkan adalah teroris dalam hati kita sendiri.

M.M.Nilam Widyarini, MSi, Kandidat Doktor Psikologi, Pengasuh rubrik di tabloid Gaya Hidup Sehat.

sumber





Share:

10/09/2009

Vietnam Ancam Sedot Wisatawan Asing

Turisme menjadi salah satu andalan Vietnam. Sumbangan pendapatan negara dari sektor ini diharapkan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Vietnam termasuk sukses menggarapnya, bahkan mereka siap menyedot wisatawan asing.

Ini bisa menjadi ancaman buat negara-negara tetangga yang sebelumnya sukses menggarap sektor pariwisata. Sebut saja Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Bahkan, ancaman itu semakin serius.

Pertumbuhan wisata di Vietnam mengalami kemajuan sangat pesat mulai tahun 2006. Menurut World Travel and Tourism Council (WTTC) dan Oxford Economic Forecasting, Vietnam berada di urutan keenam. Sungguh luar biasa.

Pertumbuah wisata terbesar dipegang Montenegro. Negeri Balkan itu mengalami pertumbuhan 10,2 persen. Urutan kedua ditempati China yang mengalami kemajuan sebesar 8,7 persen. Berturut-turut diikuti India (8 persen), Rumania (7,9 persen), Kroasia (7,6 persen), baru Vietnam (7,5 persen). Di belakangnya ada Latvia (7,3 persen), Maladewa (7,2 persen), Albania (7 persen), dan Kamboja (7 persen).

Di mana Indonesia? Yang pasti tak masuk 10 besar dalam pertumbuhan industri pariwisata.

Apa rahasia Vietnam? Mereka mampu mengoptimalkan semua potensi wisata yang dimiliki. Vietnam membuka pintu lebar-lebar buat investasi asing, termasuk di sektor pariwisata. Sehingga, industri pariwisata di pusat-pusat wisata berkembang pesat dan makin memuaskan. Bahkan, wisata di Vietnam semakin menjadi rujukan dunia.

Terowongan Cu Chi, misalnya, terus dipromosikan pemerintah Vietnam. Terowongan yang di masa perang menjadi tempat bersembunyi 10.000 Vietkong itu memang memiliki kisah dramatis. Sebab, terowongan itu pula yang menjadi kunci kemenangan Vietnam melawan Amerika Serikat yang membantu pemerintah Republik Vietnam Selatan.

Di tempat ini, kemasan wisata dibuat seperti aslinya. Kehidupan para Vietkong semasa perang bisa ditapak tilas. Lobang-lobang persembunyian dijadikan obyek wisata dengan peragaan para pegawai. Boneka tentara Vietnam juga dibuat di beberapa pojok, sehingga nuansanya seperti masih dalam suasana perang.

Yang terpenting lagi, pelayanan sangat memuaskan. Kebersihan juga tampak ditekankan dan keamanan dijamin sebaik mungkin. Ada beberapa polisi yang berbaju preman, tak terlihat. Jika sewaktu-waktu ada kriminal, maka meraka langsung beraksi. Itu pula sebabnya, pelaku kejahatan berpikir 1000 kali untuk beraksi, karena tak tahu di mana polisi berada.

Gedung-gedung bersejarah seprti Gereja Katedral, Istana Unifikasi, kantor pos, pagoda, juga menjadi andalan. Itu semua ada di Ho Chi Minh, atau Vietnam Selatan. Di Hanoi sebagai ibukota, juga banyak tempat wisata yang dikembangkan.

Halong Bay menjadi promosi utama. Apalagi, pulau-pulau dan batu karang di lautan itu menjadi salah satu konservasi dunia yang dilindungi PBB.

Vietnam juga pintar mengoptimalkan sungai-sungai mereka menjadi obyek wisata, seperti Sungai Saigon dan Mekong.

Hadirnya investor asing membuat sektor wisata di Vietnam menjadi sangat bagus. Sampai saat ini, ada 92 perusahaan wisata baik lokal maupun asing.

Di Sungai Saigon, misalnya, ada beberapa kapal milik asing yang memberi pelayanan wisata. Biasanya mereka menyediakan paket rumah makan. Jadi, makan sambil menyusuri sungai selama dua jam. Selama di kapal, pengunjung dihibur band, sulap, juga atraksi lain.

Beda di Indonesia. Meski memiliki banyak sungai, tapi belum dieksploitasi secara optimal sebagai industri swasta. Padahal, sungai-sungai di Vietnam tak jauh beda dengan Indonesia.

"Kami berinvestasi di sini sejak enam tahun. Pasar semakin menggairahkan, tapi persaingan semakin berat," kata pengelola Kapal Bonsai asal Austria, Madlen Ernst.

"Semakin banyak perusahaan asing yang beroperasi di sini. Sehingga, persaingan semakin kuat. Bahkan, ada yang mulai banting harga. Tapi, kami masih mengalami kenaikan penghasilan, karena pasar memang meningkat," tambahnya.

Menurut direktur agen perjalanan Viking, Hung Tran, memang wisatawan semakin meningkat dan persaingan makin kuat. "Kami harus kreatif dan pintar mengambil celah," katanya.

Persaingan ketat itu menguntunhgkan wisatawan. Sebab, selain harga bisa lebih murah, kualitas pelayanan semakin baik. Apalagi, pemerintah juga merangsang dengan membangun fasilitas yang lebih baik di tempat-tempat wisata. "Kami punya guide dengan banyak bahasa, termasuk Bahasa Indonesia," ujarnya bangga.

Apalagi, pemerintah Vietnam berencana membangun bandara baru yang dua kali lebih besar dari Bandara Changi di Singapura dan lebih mewah. Itu jelas akan merangsang pertumbuhan sektor wisata.

Maka, tak heran jika industri wisata Vietnam siap menyedot jatah pasar negara tetangga, termasuk jatah Indonesia. Sebab, dengan bandara baru, diharapkan akan ada 100 juta penumpang yang melewati bandara itu. (Hery Prasetyo)





Share:

9/07/2009

2 Pejabat di Malang Berbeda Pandangan Soal Parcel

Penerimaan parcel di kalangan pejabat maupun PNS masih menjadi polemik. Hal itu nampak di dua pemerintahan di kota dingin Malang.

Wakil Bupati Kabupaten Malang, Rendra Kresna melarang para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan kerjanya menerima parcel. Karena dengan menerima bingkisan setiap lebaran itu merupakan pelanggaran sumpah jabatan.

"Dalam sumpah jabatan telah diatur, bahwa pegawai negeri sipil itu tidak boleh menerima parcel, " kata Rendra Kresna kepada detiksurabaya.com di Pendopo Kabupaten Malang, Jalan Kyai Agus Salim, Kota Malang, Senin (7/9/2009).

Namun, lanjut Rendra, larangan itu menjadi kendala tersendiri. Karena masih banyak kiriman parcel dialamatkan ke rumah masing-masing. Kiriman parcel itu tidak mungkin lagi untuk dikirim balik.

"Itu yang sering terjadi. Jadi jarang jika parcel diberikan di kantor, Namun, dikirim melalui pos ke rumah-rumah," jelas Rendra.

Kendati demikian, menurut Rendra, kiriman parcel bila tidak menyangkut tentang pekerjaan, secara wajar dapat diterima. Tapi bila ada keterkaitan dengan pekerjaan dilarang untuk menerimanya.

Rendra menambahkan, selama ini pegawai negeri sipil sudah mampu untuk melalui lebaran dengan gaji serta tunjangan yang diterima.Jadinya tidak perlu lagi untuk menerima parcel dalam bentuk apapun. "Sebagai pegawai kita sudah mampu," tegasnya.

Sementara itu, pernyataan lain dilayangkan oleh Walikota Malang, Peni Suparto. Pihaknya tidak akan menolak jika ada yang berkeinginan mengirimkan parcel ke Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menjelang hari raya Idul Fitri 1430 H.

Namun, secara tegas Peni menolak akan pemberian dana atau uang menjelang lebaran tahun ini. Itu juga berlaku kepada seluruh Pegawa Negeri Sipil (PNS) Kota Malang selama lebaran tahun ini.

"Saya tidak meminta atau menolak parcel. Tapi kalau dana atau uang, secara tegas saya menolak," kata Peni ditemui di Balai Kota Malang Jalan Tugu.

Peni juga menambahkan, apabila ada pengiriman parcel yang dialamatkan ke Kantor Balikota Malang, dirinya akan membiarkan menumpuk. Jika sudah banyak, akan membagikannya kepada yang lebih membutuhkan.

"Biar saja menumpuk, yang penting saya tidak menolak. Nanti akan saya bagikan kepada orang yang lebih butuh," ujarnya.

Peni berdalih, semua yang dilakukan merupakan bentuk sikap dirinya dalam masalah penerimaan parcel yang selalu datang jelang lebaran. Dia sendiri menyerahkan kepada semua pejabat di lingkungan Pemkot Malang dalam menyikapi masalah parcel.

"Terserah jika ada pejabat yang menerima atau bersikap lain, saya tidak mempermasalahkan," imbuhnya.

sumber





Share:

8/08/2009

Teryata 1/3 Penduduk Eropa Tak Kenal Internet

Hampir setengah penduduk Eropa menggunakan internet setiap hari. Namun sepertiga dari penduduk mereka belum pernah mengakses internet sama sekali. Fakta tersebut terungkap dari penelitian yang dilakukan Komisi Uni Eropa yang menggali lanskap digital di Eropa dalam lima tahun terakhir.

Studi menunjukkan, teknologi baru menyebar cepat di benua Eropa. Tetapi kalangan tertentu, terutama orang lanjut usia dan pengangguran tidak sadar teknologi dan tidak mengetahui eksistensi situs-situs di internet.

Seperti VIVAnews kutip dari Tech Crunch, 5 Agustus 2009, studi menunjukkan, 56 persen penduduk Eropa menjadi pengguna rutin internet pada 2008, jumlahnya naik sepertiga kali sejak 2004.

Sebanyak 43 persen dari jumlah tersebut setiap hari mengakses internet. Sedangkan 75 persen mengakses internet secara teratur, setidaknya satu kali dalam satu pekan. Pada 2005, jumlahnya hanya 43 persen. Setengah dari total keluarga dan lebih dari 80 persen dari kalangan bisnis, memiliki koneksi broadband tahun lalu dan dengan 114 juta pelanggan, Uni Eropa menjadi pasar terbesar di dunia untuk akses broadband.

Peningkatan terbesar dalam pemakaian internet terlihat jelas di Irlandia, Republik Ceko, Prancis, Hungaria, Latvia, dan Lithuania. Sedangkan Italia, Siprus, Rumania, dan Portugal jauh tertinggal. Tingkat pemakaian internet yang rendah di negara-negara tersebut dan di negara lain seperti Bulgaria, Slovenia, Slovakia dan Spanyol, kali pertama bisa terlihat di antara keluarga ekonomi kelas bawah, orang lanjut usia (berumur 65 hingga 74 tahun), pengangguran, dan warga Uni Eropa dengan tingkat pendidikan rendah.

Laporan Uni Eropa juga menggarisbawahi peningkatan kalangan yang disebut “digital natives” (berusia antara 16 hingga 24 tahun) sebagai pengguna internet paling aktif dan kreatif. Hampir 70 persen orang di bawah 24 tahun menggunakan internet setiap hari, dibandingkan rata-rata 43 persen dari Uni Eropa. Kelompok tersebut juga secara rutin menggunakan layanan mutakhir untuk menciptakan dan berbagi content online.
sumber




Share:

Yaiks..Ternyata Daging Tikus Digemari Di Malawi

Daging tikus merupakan santapan populer di Malawi. Di pasar-pasar Malawi, maupun di kios-kios pinggir jalan, tikus yang sudah dimasak, digoreng kering dan diberi garam, mudah ditemui.

Tikus-tikus yang dikonsumsi adalah jenis tikus ladang. Mereka diburu di ladang jagung pasca panen. Biasanya mereka ditemukan dalam keadaan gemuk karena hewan mamalia ini mengonsumsi butiran jagung, buah, dan serangga.

Spesies tikus yang paling banyak dikonsumsi dalam istilah lokal disebut Kapuku. Kapuku berwarna kelabu dan memiliki ekor lebih pendek dibanding tikus pada umumnya.

Anak-anak muda pemburu tikus lincah menangkap hewan kecil ini. Namun, penduduk lokal juga memiliki jebakan-jebakan inovatif. Salah satu metodenya adalah dengan menggali lubang dan meletakkan pot tanah liat berisi air ke dalam lubang tersebut.

Mulut pot diolesi sekam jagung. Saat calon korban membaui dan mulai memakan sekam itu, mereka akan jatuh ke dalam pot dan tenggelam.

Negara berpenduduk 12 juta jiwa tersebut merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Negara di Afrika Selatan ini rawan wabah penyakit dan kelaparan. Keadaan makin sulit karena bencana kekeringan dan gagal panen selalu datang secara periodik.





Share:

8/07/2009

Ternyata Beda Negara, Beda Konsep Keperawanan Lho!


Istilah virgin berasal dari bahasa Latin virgo atau gadis, perawan. Istilah ini juga punya kaitan erat dengan istilah virga, yang artinya baru, ranting muda atau cabang yang tidak berbentuk.

Keperawanan, istilah ini terdengar begitu terus terang, vulgar. Bila seseorang bertanya atau menyebut “Anda perawan atau tidak” tentu pernyataan atau pertanyaan itu akan mengganggu Anda. Namun, lupakan saja soal ini.

Mari kita lihat beberapa pandangan soal keperawanan. Di beberapa belahan dunia lain, konsep keperawanan memiliki arti masing-masing.

- Ada kebudayaan yang menganggap seorang wanita yang belum menikah tetaplah perawan meski dia adalah seorang pelacur. Hanya lewat pernikahan sajalah dia kehilangan keperawanan. Meski selama bertahun-tahun seorang perempuan menjadi pelacur, saat menikah dia diperlakukan sebagai perawan, berpakaian putih, dan menampilkan dirinya di hadapan suaminya dengan begitu lugu dan murni. Dialah yang akan mencuri keperawanannya.


- Di bagian dunia lain, seorang wanita yang sudah menikah tanpa anak adalah seorang perawan. Keperawanan hilang hanya saat anak pertamanya lahir lewat saluran vagina. Keperawanan tidak hilang karena hubungan seks melainkan dengan menjadi ibu. Jadi setiap wanita tidak beranak, meski sering berhubungan seks, tetaplah perawan.

- Di antara orang-orang yang takut dengan mitos darah pada malam pertama, darah memiliki cerita panjang yang cukup negatif konotasinya. Seorang laki-laki akan menikahi seorang perempuan hanya setelah selaput daranya pecah lewat hubungan seks dengan seorang asing yang tugasnya memang demikian. Pekerjaan orang asing ini dianggap sulit, dan laki-laki yang melakukannya akan dianggap pemberani karena dia menerima bahaya berulangkali saat melakukan kontak dengan darah.

- Seorang wanita yang diperawani oleh seorang walinya membuktikan pada suaminya bahwa dia lebih murni dan lebih perawan daripada sebelumnya. Karenanya melakukan hubungan seks dengannya tidaklah membahayakan.

- Seorang wanita di kalangan dunia Barat akan tetap dianggap perawan sampai dia melakukan hubungan seksual, oral ataupun anal dengan pria. Dan hal itu masih kita pegang sampai sekarang. Bahkan juga di dunia Timur.

Jika definisi keperawanan kedengarannya membingungkan dan absurd bagi kita dengan cerita ini, maka istilah yang kita gunakan untuk menamai keperawanan akan mengundang senyum masam. Kita mungkin akan bertanya dalam hati, apa artinya mempertanyakan keperawanan seorang wanita.

Dalam sebuah polling menyebutkan bahwa 56 persen anak-anak gadis usia sekolah menengah di Amerika sudah melakukan hubungan seksual. Bahkan lebih dari itu, banyak pasangan yang sudah hidup serumah sebelum pernikahan resmi dijalankan.

Namun demikian, tetap saja banyak pasangan yang menginginkan perkawinan monogami, meski keperawanan bukan lagi sesuatu yang mutlak harus dipertahankan. Satu hal yang pantas diingat adalah bahwa selama berabad-abad konsep keperawanan sebagai sebuah idealisme kemurnian wanita memiliki perbedaan dari satu tempat dengan yang lainnya. Lalu apa artinya perawan? Silakan merenungkannya!

sumber


Share:

7/31/2009

Rumah Peredam Gempa: Rumah Bidai


Kearifan lokal masyarakat adat Bengkulu dalam membangun Rumah Bidai yang terbuat dari bambu ternyata bisa menjadi hunian alternatif tahan gempa untuk mengurangi resiko bencana.

Studi tentang keunggulan desain Rumah Bidai telah dilakukan Yayasan Layak Bengkulu. Dari penelitian terhadap rumah-rumah yang roboh total akibat gempa 2007 dengan kekuatan 7,9 SR di Bengkulu terungkap bahwa sebagian besar adalah rumah permanen yang terbuat dari batu bata atau beton. Sementara rumah yang berbahan utama kayu dan "bidai" mampu bertahan dari goncangan dan goyangan gempa.

"Kami baru saja membuat studi untuk mengungkap kearifan lokal masyarakat Bengkulu yang ternyata memiliki desain bangunan rumah yang bahan bakunya sederhana dan yang paling utama tahan gempa," kata staf Yayasan Layak Hema Malini di Bengkulu, Jumat.

Kondisi geografi Bengkulu yang berada di pertemuan dua lempeng aktif yakni Indo-australia dan Eurasia serta adanya patahan Sumatera (Sumateran fault) membuat daerah ini berada pada zona merah rawan bencana gempa. Mengutip penelitian Fakultas Teknologi Universitas Bengkulu, kata dia, sejak tahun 1973 hingga 2008 telah terjadi 1.200 kali gempa di Bengkulu.

"Menggunakan bahan baku kayu mungkin sangat mahal karena kayu sudah langka tetapi dengan bidai lebih sederhana bahannya dan kami melihat banyak masyarakat yang kembali membangun rumah bidai, dengan bambu sebagai pengganti batu bata," jelasnya.

Berkembangnya pembangunan rumah bidai kata Hema saat ini dilakukan oleh mayarakat di beberapa desa di Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara. Yayasan Layak, lanjut hema, akan berusaha mengkampanyekan penggunaan rumah bidai untuk masyarakat lainnya di Provinsi Bengkulu yang seluruhnya berpotensi mengalami gempa bumi.

"Sepuluh kabupaten/kota berpotensi diguncang gempa berdasarkan zona merah rawan gempa yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika," jelasnya.
sumber





Share:

7/13/2009

INI DIA ALAT MUSIK TERTUA DI DUNIA

Sebuah flute dinyatakan sebagai alat musik tertua di dunia. Flute yang digali dari sebuah goa di Jerman itu terbuat dari tulang burung dan diukir sekitar 35.000 tahun lalu.

Pada awal era modern, Eropa telah mengembangkan budaya yang kompleks dan kreatif. Sebuah tim arkeologi pimpinan ahli arkeologi Nicholas Conard dari University of Tuebingen menyambung kembali 12 potongan flute, yang didapat dari tumpukan tulang burung nasar dari goa Hohle Fels, menjadi sebuah flute yang panjangnya sekitar 22 sentimeter dengan lima lubang.

”Tak diragukan lagi ini adalah instrumen musik tertua di dunia,” ujarnya.

Penemuan itu dimuat online oleh jurnal ilmiah Nature, Rabu (24/6). Flute tua lainnya ditemukan di Austria diduga berusia 19.000 tahun. Dan 22 buah flute ditemukan di Pegunungan Pyrenees, Perancis, berusia sekitar 30.000 tahun.

September 2008 tim Conard mengangkat enam fragmen gading membentuk figur perempuan-penemuan bagian kepala manusia tertua yang diyakini membangun budaya yang maju 35.000 tahun lalu.

sumber



Share:

7/11/2009

Graha Maria Annai Velangkanni: Kuil Untuk Bunda Maria

Sore itu di sebuah taman mini, di Graha Maria Annai Velangkanni tampak beberapa ibu-ibu sedang berdiri membaca sebuah ukiran di dinding. Di dinding taman yang diberi nama Taman Mini Santo Giovanni Paolo II itu terukir kalimat terakhir yang pernah diucapkan Musafir dari Polandia Paus Johannes Paulus II: ”Magnificat Animo Dei.”

Di tempat lain di graha itu, beberapa remaja juga terlihat sedang menikmati suasana. “Di sini sejuk dan damai,” kata Joni (23) dan Ida (20), yang baru kali pertama berkunjung. Nurlela (31) lebih sering lagi. Baginya, tempat ini memberi inspirasi. FR James Bharataputra SJ sendiri menjuluki tempat ini sebagai oase di “padang gurun.”


Memasuki Graha Maria Anna Velangkanni di Jl Sakura III No 10 Tanjung Selamat memang suatu pengalaman menarik. Berada di sudut Kota Medan dan jauh dari kebisingan. Di lokasi seluas 6.000 meter persegi orang-orang dapat menikmati kenyamanan dan kesejukan. Di sini setidaknya tertangkap sebuah makna yang pantas diteladani, harmonsasi di antara pluralitas. Semua orang datang untuk “berteduh” di sini, dari berbagai keyakinan dan budaya.

Secara khusus, tempat ini memang diperuntukkan bagi umat Katolik yang hendak melakukan devosi kepada Bunda Maria. Kenyataannya, orang-orang yang berkunjung ke tempat ini datang dari keyakinan yang berbeda seperti Hindu, Islam dan Buddha. Di sisi lain, pertemuan antar budaya dan etnis juga terjadi di sini. “Raju” bersapa dengan “A Seng”, “Ali” bersapa dengan “Togar”, “Sembiring” bersapa dengan “Joko” dan seterusnya dan seterusnya.

Mereka bersatu dan bersahabat di sini. Setidaknya mereka datang untuk menikmati kesejukan taman yang adem secara spiritual. Dan yang pasti keharmonisan terjalin di sini. Ini pantas menjadi teladan, melihat saat ini negara kita sedang dihadapkan dengan konflik yang dilatari agama dan suku seperti yang terjadi di Poso, yang bahkan telah menelan korban jiwa.

Sumatera Utara boleh bangga. Peristiwa seperti itu masih jauh, dan semoga tidak. Graha Bunda Maria Anna Velangkanni dapat dijadikan sebagai wadah pemersatu antar umat beragama di Tanah Air, khususnya di Sumatera Utara. Seperti yang diucapkan sang pencetus ide FR James Bharataputra SJ, “manusia adalah sama sebagai ciptaan Tuhan.”

“Tempat ini menawarkan nilai persatuan itu meski dengan keyakinan yang berbeda.” Seorang India dari Serikat Jesuit (SJ) yang telah berkarya selama 34 tahun di Keuskupan Agung Medan itu berkomentar. Memang, seperti kata James kemudian, seperti oase, graha ini hadir sebagai pelepas dahaga ketika “kekeringan” sedang terjadi. Kesibukan sehari-hari di era modernisasi saat ini mungkin telah membuat orang jenuh dan membutuhkan kesejukan. Untuk itu tempat ini hadir bagi siapa saja, mengundang siapa saja, tanpa pandang bulu untuk merasakan keteduhan sebab tempat ini hadir untuk menyatukan perbedaan.

James mengatakan pembangunan graha ini diawali dari mimpi. “Saya adalah pemimpi hal yang indah-indah, demikian juga dengan hati manusia, saya ingin agar hati setiap orang yang datang ke tempat ini menjadi indah, hati indah yang memiliki kesejukan dan kedamain.”

Inilah yang mengilhami pemikiran James yang masih terlihat bersemangat itu meski usianya kini telah mencapai 69 tahun. Ingatannya pun masih tajam. Pengalaman James hidup di lingkungan budaya Hindu semasa kecil tetap melekat meski ia hidup dengan disiplin Katolik dari kedua orangtuanya. Keharmonisan di antara perbedaan itu memberinya inspirasi untuk mendirikan sebuah graha seperti Velangkanni Shirine yang sudah ada sejak 350 tahun lalu. Dan kini mimpi itu menjadi kenyataan.

Jika melihat dengan utuh model bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 6.000 meter persegi itu, maka yang tertangkap imajinasi adalah nuansa budaya Hindu-Islam. Gaya arsitektur yang diaplikasikan adalah desain bangunan gaya Indo-Mogul yang ngetren di era Kerajaan Mongolia Kuno dulu.

Namun demikian, Pastor James menepis anggapan bahwa tempat ziarah spiritual itu dikhususkan bagi umat Kristen atau budaya tertentu saja. “Saya juga ingin mempersatukan budaya segala bangsa melalui tempat ini,” katanya.

“Pintu Graha Bunda Maria Anna Velangkanni terbuka bagi setiap keyakinan dan budaya untuk mengalami kesejukan iman dari Sang Pencipta karena pada dasarnya ide pendirian graha ini berangkat dari mukjizat yang dialami oleh umat Hindu di India tepatnya di Vailangkanni, sebuah dusun kecil di pesisir Tanjung Bengala bagian India Selatan, di mana mereka mengalami peristiwa penampakan Bunda Maria. Nah, hal itulah yang menginspirasikan berdirinya graha ini.”

James bercerita, pada pertengahan abad-17 atau sekitar 350 tahun yang lalu di Velangkanni, Bunda Maria menampakkan dirinya sebanyak tiga kali. Waktu itu jauh sebelum Maria menampakkan dirinya di Goa Lourdess Prancis dan Portugal. Pada awalnya, Velangkanni Shrine yang ada di India sekarang adalah sebuah kapel kecil. Kemudian dibangun kembali oleh pelaut asal Portugis yang sebelumnya mengalami hempasan badai. Kapal mereka yang hendak menuju Maccau dari Eropa melalui lautan Sri Langka terombang-ambing. Namun mereka akhirnya selamat setelah melakukan devosi kepada Bunda Maria dan dalam devosi itu mereka berjanji akan mendirikan sebuah gereja di mana saja kapal mereka akan berlabuh dengan selamat. Herannya, kapal mereka berlabuh di Velangkanni. Mereka pun menepati janjinya.

Kemudian di tempat ini, sekitar 90 kilometer dari Chennai, Tamil Nadu India, orang-orang yang sakit datang berdoa dan disembuhkan. Nama “Maria Annai”pun diberi yang dalam Bahasa Tamil berarti “bunda”. Tempat ini menarik hati orang-orang dari berbagai bangsa dan kepercayaan mana pun untuk berziarah. Sejak saat itu pula tempat itu dijuluki “Lourdess Timur” dan diangkat statusnya sebagai basilika oleh Sri Paus Yohannes ke-23.

“Saya ingin peristiwa seperti di Velangkanni juga terjadi di Indonesia, kalau bisa diawali dari Kota Medan,” katanya. Pembangunan graha itu pun dimulai pada September 2001. “Saya mulai dengan keyakinan yang teguh bahwa mimpi saya akan terwujud,” kata Pastor James tersenyum.

Pada tahun 2000 Uskup Mgr A G Pius Datubara OFMCap meminta James untuk mendirikan sebuah balai pertemuan khusus untuk orang-orang India Tamil yang tersebar di Kota Medan. James kemudian menyetujuinya dan mengusulkan agar di tempat itu juga didirikan sebuah tempat devosi kepada Bunda Maria. “Dengan demikian kita bisa membina orang dengan imannya,” katanya.

Berawal dari keyakinan pembangunan pun dimulai. Setelah mengurus proses perizinan pendirian pondasi pun dilakukan. Soal dana, James mengatakan ia tak pernah ragu. Pembangunan pun berlanjut. James mengumpamakan, Tuhan sebagai panitia, Bunda Maria menjadi penyedia dana dan ia sendiri sebagai orang yang dihunjuk sebagai pelaksanaanya.

Dalam proses pembangunan, James mengatakan ia dibantu oleh Ir Yohannes Tarigan seorang dosen di Fakultas Teknik di USU dan UNIKA St Thomas Medan selaku konsultan yang menawarkan jasanya dengan gratis. Selama empat tahun akhirnya bangunan selesai dikerjakan. “Saya selalu yakin mimpi saya akan terwujud,” katanya

Soal dana pembangunan James mengaku banyak dibantu banyak pihak, termasuk dari pihak yang berbeda keyakinan. 60 persen berasal dari dalam negeri dan selebihnya dari luar negeri.

***
FEBRUARI 2002 di sebuah rumah di Jl Kediri No 27 (Kampung Keling) Medan, sebuah peristiwa naas terjadi. Rumah itu adalah rumah seorang sahabat di mana Pastor James tinggal untuk sementara. Sahabat itu memberinya sebuah kamar di lantai dua untuk peristirahatan James sementara. Namun naas, lantai dua rumah itu dilahap si jago merah akibat arus pendek. Termasuk kamar James. Yang tersisa hanya puing-puing.

Tiga hari sebelum peristiwa itu, James menaruh senilai uang Rp 10 juta di atas meja kamarnya. Uang itu adalah sumbangan dari Aceh. Untuk diketahui, sebelumnya Pastor James pernah berkarya di Aceh selama 8 tahun dan di Papua selama 3 tahun.

Tiga hari kemudian, ketika sedang menunggu keberangkatan pesawat yang akan kembali ke Medan, ia menerima telepon yang mengatakan bahwa kebakaran telah terjadi dan menghanguskan lantai dua rumah itu, termasuk ruangannya sendiri. “Saya yakin uang itu pasti akan ikut terbakar karena uang itu memang berada di ruangan saya itu.

Anehnya, menurut Pastor uang itu tidak ikut hangus terbakar dan ditemukan dengan utuh di antara puing-puing bangunan yang telah hangus. “Ini aneh dan bagi saya dan ini adalah keajaiban,” kenangnya. Sebelumnya ia meninggalkan uang itu dengan terburu-buru dan tidak sempat menyimpannya di bank sebab harus mengikuti sebuah acara penting di Jakarta.

Keajaiban ini segera tersebar melalui media massa dan dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya terdengar ke daerah lain bahkan ke telinga negeri tetangga, Malaysia dan Singapura. Setelah membaca peristiwa itu dari surat kabar, seorang ibu dari Aceh terharu, datang dan menganjurkan supaya “uang ajaib” itu tidak dipergunakan dan sebaiknya disimpan saja dan menggantikan sejumlah uang itu. “Simpan saja uang itu dan ini sebagai gantinya,” kata ibu tersebut saat itu, seperti yang ditirukan James.

Demikian kisah ini berlanjut, dua lembar dari lembaran-lembaran uang ajaib itu kemudian dibawa oleh seorang sahabat dari Singapura. Melalui cerita sahabat tadi, peristiwa aneh itu pun tersebar dan membuat sebuah keluarga terharu. Tanpa menyebutkan identitas, keluarga itu kemudian memberikan bantuan sebesar Rp 250 juta.

Untuk yang kedua kalinya, setelah James menjelaskan ide pembangunan itu kepada keluarga tersebut dan beberapa keluarga lain di Singapura melalui sahabat yang juga pastor itu, pada waktu yang tidak begitu lama sesudahnya, bantuan dalam jumlah yang sama kembali datang mengalir ke rekening James di bank.

James pun terharu. “Saya semakin heran dan terkejut,” katanya. James kemudian mengundang keluarga itu untuk melihat kondisi graha yang sedang dibangun. Pada waktu yang sama keluarga itu kembali memberikan bantuan untuk ketiga kalinya.

Ketika keluarga itu kembali ke Singapura, Nenek Teresa Yap Lian Hoe seorang ibu tua yang telah puluhan tahun bekerja untuk keluarga itu sebagai pembantu rumah tangga ikut terharu. Pada saat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ibu yang sepanjang hidupnya tidak menikah itu dengan rela memberikan tabungan yang disisihkannya sepanjang hidupya untuk disumbangkan untuk pembangunan graha itu. “Sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir Nenek Teresa Yap Lian Hoe meminta majikannya untuk mengantarkan persembahan seumur hidupnya itu untuk pembangunan graha ini,” kenang James terharu.

Demikian seterusnya, kata James. Bantuan pun datang dari berbagai pihak yang hampir seluruhnya mengalir lewat rekening bank tanpa sepengetahuannya. “Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dana yang mengalir ke rekening sumbangan di bank selalu bertambah setiap minggunya. Saya heran juga…,” cetusnya.

“Padahal setiap minggu saya selalu ambil dana tidak sedikit dan itu saya pergunakan untuk biaya pembelian bahan bangunan dan biaya pekerja dan rekening itu selalu tidak pernah berkurang, bahkan sebaliknya.”

Kini bangunan dengan biaya sebesar Rp 4 milliar itu berdiri seperti pertama kali James memimpikannya. Mimpinya untuk memberikan suatu oase bagi kehidupan manusia yang sedang haus akan segala hal terwujud sudah. James memandang bahwa manusia saat ini sedang dilanda rasa haus dalam berbagai hal, nama dan kehormatan, kekayaan dan uang. Inilah yang sedang melanda manusia modern saat ini dan oase ini hadir untuk melepaskan dahaga mereka. “Silahkan datang hai yang letih dan berbeban berat dan rasakanlah keteduhan di sini,” katanya.

Pada 1 Oktober 2005 dengan resmi dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara Drs Rudolf Pardede dan Uskup Agung Medan Mgr A G Pius Datubara OFMCap. Dan sejak saat itu graha ini menarik banyak orang dari Nusantara dan manca negara.

James sempat menyayangkan kekurangan fasilitas di tempat ini yakni belum tersedianya sarana penginapan untuk mendukung kunjungan peziarah dari luar Kota Medan dan negeri tetangga. Namun kemudian pada tahun 2006 mimpi itu pun terwujud. Meski kapasitas yang tersedia hanya beberapa kamar saja karena keterbatasan tempat namun setidaknya dengan adanya penginapan kecil ini mampu mengatasi kendala yang sering terjadi pada pengunjung yang ingin berlama-lama tanpa harus repot mencari penginapan di tempat lain. Penginapan ini mampu menampung sekitar 20 orang pengunjung, kata James, selain dilengkapi dengan kantin kecil.

***

SORE itu keheningan masih terjaga. Joni dan Ida melanjutkan perkelanaannya di graha itu. Kelihatannya mereka sedang memandang-mandang ke bawah dari lantai dua bangunan graha. Sesekali, keduanya mengamati lukisan-lukisan di dua buah tembok jalan layang naik menuju lantai dua graha itu. Lain pula dengan Nurlela, di dalam ruangan luas di lantai dua itu, ia kelihatannya sedang menikmati keheningan tempat itu. Ia sedang membaca sebuah buku dan kelihatannya tak mau diganggu. Kemudian saya menegurnya. “Saya senang menikmati suasana hening di tempat ini, sepertinya saya merasakan kedamaian,” katanya.

Sementara di halaman luar, beberapa remaja lain kelihatan sedang asyik bergantian dengan kamera ponselnya. Mereka ingin mengabadikan kedatangan mereka di tempat itu. Dan ibu-ibu tadi, ibu-ibu yang serius membaca tulisan di Taman Mini Santo Giovanni Paolo II yang dibangun untuk mengenang almarhum bapa segala bangsa itu, sudah beranjak ke tempat lain. Mereka sedang berdoa di sebuah kapel kecil.

Di kapel kecil yang diberi nama Kapel Maria inilah James mengawali mimpinya. Kapel kecil tempat berdevosi kepada Bunda Maria ini merupakan bangunan awal dari seluruh bangunan yang ada di graha itu. Menurut James, di sinilah doa-doanya sering didengar oleh Tuhan sehingga pembangunan graha terwujud hingga kini.

Maka, meski Graha Maria Anna Velangkanni baru diresmikan pada 2005, kapel ini sudah diresmikan sebelumnya pada 8 September 2001. Sebelum graha seutuhnya dibangun, kapel kecil ini sudah dipergunaan untuk doa harian setiap saat dan Doa Novena setiap Sabtu sore sepanjang tahun.

Dari kapel kecil ini juga, ide simbolis James untuk menyatukan surga dan bumi lahir. James ingin Graha Maria Anna Velangkanni menjadi wadah pertemuan antara surga dan bumi.“Di sinilah surga dan bumi bertemu. Di sinilah Tuhan Pencipta bertemu dengan bangsa manusia, makhluk ciptaan-Nya,” ungkap James.

James menjelaskan, gereja yang ada di lantai atas bertingkat tujuh dengan tiga menara berkubah merupakan simbol langit ke tujuh yaitu surga. Sedang jalan kedua layang yang tampak seperti merangkul, bersama lantai bawah melambangkan bumi. Maka pada dinding jalan layang terlukis kejadian-kejadian penciptaan hari demi hari.

Lukisan-lukisan lainnya secara implisit mewakili tema-tema penjelajahan religius di setiap sudut graha, baik interior maupun eksterior. Mulai dari peristiwa penciptaan, perjamuan kudus, penyaliban, dan kebangkitan. Inilah lukisan-lukisan sederhana namun memberi arti. Lukisan-lukisan yang dipersembahkan G R Andeas (28), lelaki India yang oleh James dijuluki sebagai “Little Micheleangelo”, yang diidentikkan dengan sosok pelukis kesohor Italia Micheleangelo.

Andreas tak pernah mengecap sekolah seni secara formal, tapi ia memiliki bakat memukau sebagai pelukis. “Bagi saya ia seperti Micheleangelo,” kata James.

Lukisan itu ibarat pencerita (story teller). Pembisik makna. Seperti makna desain bangunan yang juga sarat makna. Lantai dasar misalnya merupakan simbol bumi, tempat di mana kita hidup. Aula yang diberi nama aula St Anna, seperti kata James merupakan balai pertemuan umat Tuhan yang datang sebagai saudara tanpa memandang perbedaan suku bangsa, agama, bahasa dan budaya serta perbedaan lainnya.

Maka di tempat ini selain dipergunakan untuk acara berbau rohani, juga dipergunakan oleh orang-orang dari berbagai kalangan untuk mengadakan acara seperti pernikahan, acara adat marga, pertemuan mahasiswa dan berbagai kegiatan lainnya tanpa dipungut biaya standar. Jika biayanya dipatok maka orang-orang arang akan enggan datang ke sini karena persoalan ekonomis, kata James. “Kami hanya menyediakan kotak sumbangan yang nantinya sumbangan itu akan dipergunakan untuk biaya perawatan dan kebersihan.”

Itulah Graha Maria Anna Velangkanni, suatu tempat yang mungkin akan menjadi “oase di padang gurun” di sudut Kota Medan. Tawarannya mengajak kita untuk menghargai pluralitas. Menawarkan komposisi harmonisasi di antara pluralitas. Inilah makna sebuah cinta. Harmoni. Cinta yang berawal dari perbedaan. Sebuah tempat yang menawarkan keindahan, kedamaian dan kesejukan spiritual dan jasmani. Selamat datang dan nikmatilah pesona estetika spiritual ini.

Welcome…and taste the spirit.

Teks: Tonggo Simangunsong
Foto: James Bharataputra SJ collection





sumber
Share:

2/13/2009

MISTIK PADA PENGOBATAN ALTERNATIF

Belum reda kita setiap hari mendengar berita tentang dukun cilik ponari asal Jombang Jawa Timur kini ada lagi berita bahwa ada seorang warga Banyuwangi ada yang menemukan khasiat dari batu petir yang ia temukan beberapa tahun lalu. Batu itu ternyata dapat menyembuhkan matanya yang sempat mengalami masalah, dari sinilah ia mempunyai impian jika memang batu ini adalah media penyembuhan yang berasal dari Allah maka ia tidak segan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Ia bersedia melakukan seperti yang ponari lakukan yaitu membuka tempat praktek pengobatan alternatif yang biasanya disebut dukun. Kalau dilihat-lihat fenomena sperti ini bukan hal yang baru dewasa ini, dulu waktu masa-masanya mistiknya Ratu Kidul atau Nyai Roro Kidul, hampir seluruh Jawa Timur rame-rame memasang potongan bambu kuning untuk dipasang didepan pintu rumah dan potongan yang kecil untuk dikalungkan kepada anak-anak balita, maksudnya disini agar terhindar dari marabahaya. Contoh lain adalah fenomena sosok manusia malam bercadar yang sering disebut ninja, dukun santet sampai yang namanya kolor ijo. Pasti masih banyak yang ingatkan?
Memang seluruh fenomena-fenomena diatas ga pernah lepas dari hal-hal yang berbau mistik dan orang Jawa sangat suka sekali akan hal-hal tersebut.Jadi jangan heran jika mistiknya orang Jawa mendominasi masyarakat Jawa terutama masyarakat Kejawen. Kembali ke topik fenomena pengobatan alternatif tadi, dukun merupakan salah satu orang yang disegani dan dihormati oleh masyarakat Jawa, selain karena mereka memiliki kemampuan untuk menyembuh penyakit tapi juga dikenal sakti. Kalau disuatu desa tidak jarang seorang dukun juga menjabat kepala pemerintahan jadi jangan salah kalau kepala desanya ada yang pagi pergi berdinas di kantor kecamatan terus siang sampai malamnya membuka praktek dirumah.
Penyakit yang biasanya dibawa kepada para dukun itu adalah penyakit non medis alias akibat guna-guna atau yang lazim disebut santet. Penyakit seperti ini memang tidak bisa dijelaskan dan disembuhkan secara medis. Contohnya: Pernah ada seseorang yang mengalami muntah darah berulang-ulang, ia mengeluh badannya lemas dan berak darah setelah dicek di dokter, dicek kadar gula darah normal, dan dinyatakan sehat hanya kelelahan saja. Namun beda hasilnya ketika diperiksakan ke dukun, dia dinyatakan terkena santet dan benar setelah melalui tahap pengobatan didalam perutnya didapati beberapa benda asing antara lain potongan kaca(beling), paku dan rambut. Nah ini yang tidak ada pada pengobatan medis. Selain itu pengobatan alternatif juga relatif murah bahkan ada yang gratis seperti dukun ponari dari Jombang sampai-sampai ribuan orang yang datang. Kalau sudah begini apakah salah jika masyarakat lebih memilih mangantri daripada harus pergi ke dokter? apa lagi memang kondisi ekonomi masyarakat tradisional kita yang lemah.





Share:

11/09/2008

PERJALANANKU KE GUA MARIA LOURDES POHSARANG KEDIRI(Plus Foto-foto Eksklusif dari Kamera digitalku)






Malang, 28 November 2008 pada pukul
13:30 wib
Saya dengan teman saya melakukan perjalanan ziarah ke Goa Maria Pohsarang Di Kota Kediri menggunakan sepeda motor.Kami tidak pernah merencanakannya sebelumnya jadi kami menempuh perjalanan tanpa adanya persiapan yang memeadai. Tapi hal itu tak menyutrutkan tekad kami untuk bertemu Bunda Maria
14:00 wib
kami lewat jalur Malang-Batu-Pujon yang berkelok-kelok dan sempit.Di daerah pujon adalah dataran tinggi jadi hawanya dingin sekali. Jika melewati daerah ini saya sarankan memakai jaket yang cukup hangat dan sarung tangan
14:30 wib
perjalanan kami lumayan lancar hanya di km ke 34 menuju kota Pare kediri kami kehujanan yang membuat perjalanan kami semakin berat karena kami harus melawan derasnya hujan.Saya tidak berani memacu sepeda motor saya lebih cepat seperti biasanya karena jalanan licin dan pandangan saya tidak begitu bebas karena derasnya hujan.
15:00 wib
Hujan sudah reda,kami hampir sampai dikota Pare Kediri

15:30 wib
kami masih diperjalanan sempat mampir ke SPBU dan menanyakan arah ke Pohsarang. Menurut petugas SPBU Perjalanan kami masih jauh

16:00 wib
setelah berputar-putar sejenak dan bertanya-tanya akhirnya sampai di tempat yang kami tuju. Gua Maria Pohsarang

Gereja Puhsarang didirikan oleh Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1936 atas permintaan pastor paroki Kediri pada waktu itu, Pastor H. Wolters, CM. Insinyur tersebut juga menangani pembangunan Museum di Trowulan, Mojokerto, yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit.Bangunan gereja Pohsarang mirip dengan bangunan museum Trowulan yang sudah hancur karena tidak terawat dan ketiadaan dana perawatan pada tahun 1960, maka dengan melihat gereja sekarang kita bisa membayangkan bagaimanakah bentuk museum Trowulan dulu kala.Pastor Wolters, CM, lah yang meminta agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam membangun gereja di stasi Pohsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu.

Kompleks gereja Pohsarang merupakan suatu usaha untuk menampilkan iman kristiani dan tempat ibadat katolik dalam budaya setempat. Banyak orang berpendapat bahwa bangunan yang dibuat di Pohsarang indah dan unik serta merupakan karya monumental yang patut untuk dipelihara dan dijaga agar jangan musnah seperti museum Trowulan.Gereja Puhsarang yang menampilkan gaya Majapahit tapi dikombinasikan dengan gaya dari daerah lain dan iman kristiani. Yulianto Sumalyo dalam buku yang berjudul `Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1993" menulis mengenai gereja Puh Sarang sebagai berikut : "Seperti pada bangunan Trowulan, Tegal dan lain-lain untuk membangun gereja Pohsarang selalu menggunakan bahan-bahan lokal. Maclaine Pont menggunakan juga buruh setempat selain beberapa tukang yang sudah berpengalaman pada saat membangun museum.Gereja yang sarat dengan simbolisme ini merupakan suatu karya arsitektur yang sangat berhasil dilihat dari berbagai segi: mulai dari lokasi, tata massa, bahan bangunan, struktur dan ten tu saja fungsi dan keindahannya. Semua aspek termasuk budaya setempat dan filsafat agama dipadukan dalam bentuk arsitektur dengan amat selaras"
Sore itu kami sempat melihat kebaktian yang dilakukan umat setempat untuk mendoakan leluhur mereka yang dimakamkan di pemakaman di dalam kompleks Gua Maria Pohsarang dengan memberi lilin satu persatu di pusara leluhur mereka.
Tak terasa hari semakin sore
Kami menyempatkan berdoa bersama disekitar Gua Maria.Tidak lupa kami 'mencicipi' air sucinya dan memasukkannya dalam sebuah botol kecil sebagai oleh2.

18:00
Perlahan kami meninggalkan kompleks Gua Maria
Kami menuju kota Kediri untuk membeli oleh2 yang lain yaitu Mangga. Kami juga mengisi perut kami dengan Soto yang harganya murah meriah. Hanya dengan Rp 2500 cukup untuk mengobati rasa lapar selama diperjalanan sampai kami meningglkan kota Kediri
Share:

6/20/2008

Perjumpaan Kristen Dengan Budaya Jawa

Pemilihan budaya Jawa sebagai obyek evangelisasi dikarenakan terdapat beberapa factor keagamaan dan etnografis yang yang bisa dimanfaatkan dalam misi Kristen. Diantaranya orang-orang Jawa dikenal berminat pada kecenderungan mistis. Mereka menyebut kecenderungan ini sebagai “mencari ngelmu” (keinginan untuk memperoleh kebijaksanaan). Yang erat berkaitan dengan kecenderungan ini adalah kesediaan untuk menerima dan bersikap toleran terhadap ajaran lain. Yang menarik menurut Prof. Dr. Slamet Muljana, inti dari kebudayaan Jawa adalah pemujaan leluhur. Pemujaan arwah leluhur itu sendiri tidak merupakan agama bagi rakyat, tetapi bagian unsur penting dari ibadahnya. Alasan-alasan yang menjadi dasar upacara atau semangat yang menjadi bukanlah bidang pemikiran rakyat, tetapi bidang pemikiran pendeta/ulama. Oleh karena itu pergantian agama bagi masyarakat Jawa bukan merupakan unsur penting selama tidak menghilangkan substansi dasar kepercayaannya. Karena itu seringkali dinyatakan bahwa jenis Islam yang berkembang di Jawa menyediakan lahan subur bagi perkembangan agama Kristen dibandingkan dengan bentuk-bentuk Islam yang ada di tempat lain.

Setidaknya ada dua macam penetrasi kristen ke dalam masyarakat Jawa, yakni penerjemahan alkitab ke dalam bahasa Jawa dan pemakaian kebudayaan Jawa ke dalam praktik kekristenan. Penerjemahan Alkitab ke bahasa Jawa dilakukan oleh Johannes Emde di tahun 1811. Emde adalah seorang Kristen Jerman yang tinggal di Surabaya dan mengawini seorang perempuan Jawa. Johanes Emde kemudian membangun kongegrasinya di Surabaya yang kemudian dikenal dengan nama “Keshalehan Surabaya”.

Efektifitas penerjemahan Alkitab ini terlihat dari hasil wawancara Ali Humaedi, M.Ag. dengan keturunan pengikut Kyai Sadrach.“kami tidak mengerti apa-apa tentang adat istiadat agama Islam, tetapi sekarang kami menyadari apa yang kami lakukan, dan kami mengucapkan doa-doa yang kami hayati dalam hati sedalam-dalamnya”. Orang lainpun berkata: “al-Qur’an itu tidak kami pahami, sekarang kami pahami, sekarang kami sedikit-dikitnya memiliki suatu Kitab Suci yang kami dapat baca sendiri”. Agama Islam itu dapat saja memenuhi kebutuhan bangsa yang mengerti bahasa al-Qur’an itu, akan tetapi kami lebih menghargai al-Kitab yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa kami sendiri”.

Sedangkan tokoh yang berperan signifikan dalam perkembangan inkulturasi budaya Jawa dengan Kekristenan adalah Coenraad Laurens Colen.Coenraad Laurens Coolen, Bapaknya yang asal Rusia bermigrasi ke Indonesia sebagai prajurit upahan VOC. Ibunya adalah seorang perempuan Jawa dari keturunan bangsawan. Dari bapaknya Coolen mewarisi nilai-nilai agama Kristen Barat, sedangkan dari ibunya dia mewarisi ruh mistik dan kebudayaan Jawa. …. Dia mendakwahkan kepada kelompoknya bahwa untuk menjadi orang kristen, mereka tidak harus meninggalkan watak dan kebudayaan Jawa mereka. Karena itu Coolen tidak mengizinkan seorangpun dari mereka untuk dibaptis. Dalam upaya untuk men Jawa kan agama Kristen dalam bentuk dan karakternya, Coolen memanfaatkan wayang untuk menceritakan kisah-kisah alkitab dan menyampaikan pesan-pesannya.

Akibat penekanan Coolen kepada kebudayaan Jawa, beberapa komunitas kristen yang dipimpin para penginjil Jawa bermunculan. Diantara orang-orang kristen Jawa itu adalah Singotruno, Paulus Tosari, Matius Niep dan yang paling berpengaruh adalah Sadrach. Konsep Coolen dan para pengikutnya inilah yang belakangan berkembang dan disebut inkulturasi (inculturation).

Meskipun inkulturasi berkembang dalam tradisi kristen akan tetapi karena watak puritan kristen menyebabkan inkulturasi tidak berkembang dalam agama kristen. Para missionaris Eropa yang diwakili Frans Lion Cachet (1835-1899) sangat menentang inkulturasi versi Sadrach. Misi harus memisahkan diri dari Sadrach si pembohong, yang meracuni bidang misi kita sepenuhnya dan melahirkan sebuah agama Kristen Jawa yang sama sekali tidak memberikan tempat bagi Kristus

Dalam perkembangan selanjutnya gereja Katholik secara khusus mengadopsi konsep inkulturasi ini, lebih-lebih setelah adanya konsili Vatikan II. Dalam hal ini Bernhard Meyer SJ, mengemukakan :Konsili Vatikan II secara umum mengungkapkan penghargaan tinggi untuk karya seni dan para seniman, khususnya kesenian sakral. Ditekankan bahwa kesenian jaman sekarang dan budaya para bangsa hendaknya diakui dan hendaknya mendapat tempat dalam liturgi. Juga kesenian jaman sekarang, pun kesenian semua bangsa dan daerah, hendaknya diberi keleluasaan dalam gereja, asal dengan khidmat dan hormat sebagaimana harusnya mengabdi kepada kesucian gereja-gereja dan ritus-ritus.

Menurut J.B. Banawiratma, istilah inkulturasi berasal dari lingkungan katholik Roma. Dokumen resmi pertama yang menggunakan istilah ini adalah “Message ton the People of God” dari Sinode Para Uskup di Roma pada tahun 1977. Pada kesempatan itu, “Pedro Arrupe, Pemimpin Umum Sarikat Jesus (SJ) ketika itu, berbicara tentang katekisasi dan inkulturasi. Beberapa pengertian tentang inkulturasi telah banyak dirumuskan oleh para pakar, diantaranya A. Roest Crollius SJ yang merumuskan inkulturasi sebagai berikut :Inkulturasi gereja adalah integrasi pengalaman kristen sebuah gereja lokal ke dalam kebuadayaan bangsa tertentu sedemikian rupa sehingga pengalaman itu tidak hanya mengungkapkan dirinya dalam elemen-elemen kebudayaan bangsa itu, melainkan menjadi kekuatan atau daya yang menjiwai, mengarahkan dan membaharui kebudayaan itu, dan dengan itu menciptakan satu persekutuan baru bukan saja dalam kebudayaan tertentu melainkan juga sumbangan untuk gereja universal.

Pada tahun 1925 musik Jawa pertama kali masuk dalam gereja-gereja sebagai lagu gereja. Perintis masuknya lagu gereja dengan gamelan Jawa adalah C. Hardjosoebrata, dengan karangannya antara lain “Atur Roncen”, “Sri Yesus Mustikeng Manis” dan “O Kawula Punika”.

Saat ini inkulturasi sudah menjadi denyut nadi utama dalam agama Katholik di Jawa. Beberapa praktik inkulturasi tersebut antara lain :

· Gereja Katholik Ganjuran Yogyakarta dan Gereja Katholik “San Inigo” Dirjodipuran Surakarta dalam perayaan ekaristinya menggunakan bahasa Jawa. Mulai dari do’a, bacaan Injil, homili atau khotbah sampai do’a Syukur Agung.

· Gereja Purbawardayan merupakan salah satu paroki di Kevikepan Surakarta yang sering menyelenggarakan perayaan Natal dengan mengadakan pentas sendratari kelahiran Yesus. Bahkan pada tahun 1998 mengadakan pementasan Kethoprak.

· Sendang Sono sebagai tempat ziarah untuk berdevosi kepada Bunda Maria, pada mulanya adalah tempat orang-orang Jawa dahulu bersemedi, untuk membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup mereka.

· Dalam Pesta Intan Gereja Katholik Ganjuran tanggal 27 Juni 1999, diadakan upacara adat Jawa “Gunungan” dimasukkan dalam upacara gereja, yaitu setelah prosesi sakramen Maha Kudus. Selanjutnya gunungan yang berisi hasil bumi dibagikan kepada ummat, agar mendapat berkah yang berlimpah dari Sang Maha Pencipta.

Dari paparan di atas maka proses inkulturasi bukan sekedar peristiwa budaya, lebih tepat ia adalah peristiwa keagamaan. Dalam hal ini kita tidak dapat memisahkan inkulturasi dengan evangelisasiatau pewartaan injil dalam gereja. Inkulturasi merupakan salah satu segi yang tidak terpisahkan dari evangelisasi. Tujuan evangelisasi adalah untuk menghadirkan Injil dalam kehidupan harian sebagai bukti kehadiran Kristus dalam dirinya. Hal ini sesuai dengan amanat dari Paus Yohannes Paulus II :

Kristus dan gereja tidak boleh asing dari suku, bangsa atau kebudayaan manapun. Pesan Kristus teruntuk semua kepada semua orang. … dimana saja ia berada. Gereja harus menanamkan akarnya dalam-dalalm ke dalam tanah rohani dan budaya setiap negeri.

Share:



IndoBanner Exchanges

MY ID YAHOO MASSENGER

view

http://bacablog.com

About Me

Foto saya
Aku adalah anak manusia yang hanya numpang singgah di bumi ini. Kini aku sedang mengisi dan melakukan sesuatu untuk mengisi waktuku di dunia ini EMAIL & FS jOIN ON adaeuvoli@gmail.com

Pengikut

Personal Business Directory - BTS LocalDigNow.orgTopOfBlogs Personal My BlogCatalog BlogRank live google page rank
Personal Blogs - Blog Catalog Blog Directory
EasyHits4u Ranking Blogger Ngalam
Masukkan Code ini K1-2C333A-A
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com!-- Histats.com START --> Check Google Page Rank

ADAMAKNA

BLOGGER INDONESIA

ABSEN DISINI


ShoutMix chat widget
Bisnis Internet | Bisnis Online | Uang dari Internet |  Duit gratis | komisi 80%
Earn money from your website/blog by, selling text links, banner ads - Advertisers can, buy links, from your blog for SEO. Get paid through PayPal

Blogger templates

Blogger templates