This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label WISATA SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA SEJARAH. Tampilkan semua postingan

3/07/2010

Resolusi Dieng dan Situs-situsnya

Dua tokoh perempuan beda generasi bertutur soal isu penyelamatan lingkungan. Seorang Poppy Susanti Dharsono (58) mencemaskan efek penggurunan dengan contoh dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Seorang lainnya, yaitu Inayah Wulandari (27), menandaskan secara politis mengutip almarhum ayahnya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yaitu ”sekalipun negara berdaulat jika tidak memerhatikan lingkungan sama saja tidak berdaulat”.

Keduanya memang dikenal publik. Tetapi, bukan karena aktivitas pembelaan lingkungan mereka. Ketika mereka berbicara, ini menandakan bahwa kerusakan lingkungan sudah membuat gerah setiap orang, apa pun profesinya.

Poppy dikenal malang melintang dalam hal perancangan busana. Ia sekarang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2009-2014 daerah pemilihan Jawa Tengah. Pada Jumat (8/1) lalu ia menggelar konferensi pers sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik setelah menjalani masa reses ke Jawa Tengah, wilayah konstituennya, antara 11-31 Desember 2009.

Poppy meresahkan prediksi, 10 tahun ke depan dataran tinggi Dieng akan berubah menjadi gurun. Ia tidak langsung menukik pada persoalan penghutanan kembali Dieng. Tetapi, meminta pemerintah agar segera merevitalisasi bangunan-bangunan arkais peninggalan Mataram Hindu di Dieng. ”Pemerintah harus menengok Machu Picchu (kota Inca yang hilang) di Peru,” ujar Poppy.

Machu Picchu, tatanan kota arkais peninggalan suku Inca di Peru yang kini menjadi satu di antara tujuh keajaiban dunia yang baru.

”Tidak mustahil banyaknya candi Hindu di Dieng menjadi pesona wisata masa lalu, seperti Machu Picchu. Candi-candi itu peninggalan wangsa Syailendra abad VIII. Itu berpotensi menjadi ’Machu Picchu’-nya Indonesia,” kata Poppy.

Charlie Chaplin singgah

Revitalisasi tempat bersejarah di Dieng diharapkan bisa memberikan pendapatan baru dari sektor pariwisata. Ekonomi masyarakat setempat diharapkan membaik. Lalu, masyarakat tidak lagi bertumpu pada hidup bercocok tanam di lahan yang semestinya dijaga sebagai hutan. ”Pada tahun 1920-an Charlie Chaplin (1889-1997) pernah singgah ke Dieng. Tentunya Dieng dulu sangat indah,” ujar Poppy.

Memulihkan hutan dan merevitalisasi potensi keekonomian lainnya yang bersifat otentik lokal dan unik, menurut Poppy, pada akhirnya akan menunjang daya saing pada era perdagangan bebas di negara-negara ASEAN-China seperti sekarang.

Berikutnya, Inayah. Ia hadir sebagai salah satu narasumber forum Pandangan Lingkungan 2010 (Environmental Outlook 2010) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) di Jakarta Media Center (JMC).

Kehadirannya sekaligus mewakili keluarga besar Gus Dur. Ia diundang untuk menyaksikan prosesi penobatan almarhum ayahnya sebagai pejuang penyelamat lingkungan oleh Walhi.

Pada kesempatan berbicara, Inayah tidak menyampaikan apa saja yang sudah dilakukan Gus Dur demi penyelamatan lingkungan. ”Kita bisa googling (mencari informasi dari situs internet) kalau ingin melihat kebijakan beliau semasa menjadi presiden,” ujar Inayah.

”Saya hendak menyampaikan hal-hal yang tidak pernah diketahui publik mengenai Gus Dur,” kata Inayah.

Dia mengutarakan, almarhum ayahnya memiliki perhatian terhadap keteraturan hal-hal kecil. ”Seperti ritual pagi setelah mandi, biasa memakai obat ketek sebelum menyisir rambut. Ketika ada ajudan yang keliru menyampaikan sisir dulu sebelum obat ketek, Gus Dur tidak akan menerima sisir itu. Gus Dur akan diam saja sampai diberikan obat ketek sesuai yang biasa dilakukan,” ujar Inayah.

Berangkat dari keteraturan hal-hal kecil, Gus Dur memegang prinsip-prinsip hal besar, seperti mengenai kedaulatan suatu bangsa. Negara berdaulat yang tak mampu memerhatikan isu lingkungannya sama saja tak berdaulat.

Resolusi 2010

Isu melawan fenomena penggurunan dilontarkan Poppy. Isu menegakkan kedaulatan bangsa dengan memerhatikan lingkungan disampaikan Inayah. Kedua hal itu segaris dengan resolusi 2010 yang ingin dikejar Walhi, yaitu revolusi ekologi.

Direktur Eksekutif Walhi Berry Nahdian Forqan menyampaikan, revolusi ekologi untuk mewujudkan keadilan ekologi, reformasi agraria sejati, dan industrialisasi nasional. Revolusi ekologi untuk menghadang kepentingan segelintir pemilik modal yang mengeruk sumber daya alam kita dan merusak lingkungannya.

Seperti berlangsung di Dieng sekarang. Keadilan ekologi sulit terwujud akibat reformasi agraria sejati tidak berlangsung. Lahan petani

tidak ditopang tata ruang yang tegas. Lahan petani kian tergusur. Petani terpaksa mendobrak tatanan ekologi, seperti menciutkan, bahkan membabat habis hutan yang ada sebagai pengganti sawah-ladang mereka.

Penggurunan di Dieng mengundang gagasan menghadirkan ”Machu Picchu” Indonesia melalui tatanan candi kuno yang tersisa dari Kerajaan Mataram Hindu abad VIII nan eksotis. Tujuan akhirnya sama dengan revolusi ekologi, yaitu menyelamatkan lingkungan Dieng yang kian merana.

Mampukah pemerintah mencernanya?

sumber





Share:

1/14/2010

Makam Mbah Priok Ditawar Rp3 Triliun

Walaupun disebut makam keramat, namun makam Mbah Priok yang berada di area Pelabuhan Petikemas Koja, juga tak luput dari sikap rakus manusia untuk melakukan penggusuran. Tak tanggung-tanggung, makam ini pernah ditawar senilai Rp3 triliun.

Namun, ahli waris makam bergeming dengan rayuan tumpukan nominal yang mungkin bakal menyejahterakan itu. Jangankan hanya Rp3 triliun, ratusan triliun pun tak membuat pengurus makam tergiur.

"Mau dibayar Rp3 triliun atau ratusan triliun pun, kalau disuruh pilih dengan kiamat, saya akan memilih kiamat atau tenggelam Jakarta," tukas pengurus makam, Habibina, saat berbincang dengan okezone di majelis taklim yang berada di kompleks makam, Jalan Keramat Ujung, Tanjung Priok, Kamis (14/1/2010).

Menurut kabar, pihak yang bernafsu melakukan penggusuran merupakan pihak pengelola Pelabuhan Petilkemas Koja. Pasalnya, makam Mbah Priok berada di area tersebut.

Ahli waris mempercayai, makam Mbah Priok merupakan paku bumi yang dijaga keberadaannya oleh malaikat dan Allah SWT. Keberadaan makam ini tidak bisa dinilai dengan triliunan uang sekalipun.

"Karena ini adalah makam wali. Siapa yang benci dengan makam wali, maka membenci pula kepada Allah," tegas Habibina.

Disebutnya, pihak-pihak yang bernafsu menggusur makam Mbah Priok, merupakan orang-orang yang tidak mengerti kesucian wali. "Minimal kalau mereka tidak mengerti wali, harus menghormati makam ini adalah makam sejarah, yang pertama kali menamai Tanjung Priok," tuturnya.

Bahkan, bekas penjajah bumi nusantara pun, Belanda, menghormati keberadaan makam yang berada di pinggir laut itu. Belanda sempat berpesan, jika makam keramat ini tidak boleh diganggu, dibongkar, atau pun dipindahkan.

Makam ini, ditegaskannya, tidak akan pernah tergusur. Karena, jika tergusur, maka umat Islam lah yang akan turun untuk mencegah penggusurannya.

"Saya hanya minta agar kejadian tahun 2004 tidak terjadi lagi. Sebab makamnya wali ini kan pakunya alam. Jangan macam-macam dengan makam keramat," terangnya.

SUMBER



Share:

9/21/2009

Sepenggal Pesan Harta Karun Perairan Indonesia

Tahun 1986, dunia digemparkan dengan peristiwa penemuan 100 batang emas dan 20.000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC Geldennalsen yang karam di perairan Kepulauan Riau pada Januari 1751. Penemu harta karun itu adalah Michael Hatcher, warga Australia, yang menyebut dirinya sebagai arkeolog maritim yang doyan bisnis.

Percetakan Inggris, Hamish Hamilton Ltd, memublikasikan kisah petualangan dan temuan Hatcher itu dalam The Nanking Cargo (1987). Nanking Cargo merupakan sebutan kargo kapal VOC Geldennalsen yang berisi barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking, China.

Yang paling terkejut dengan temuan Hatcher itu adalah Pemerintah Indonesia. Bagaimana tidak, barang-barang yang dilelang Hatcher di balai lelang Belanda, Christie, senilai 15 juta dollar AS itu ditemukan di perairan Kepulauan Riau.

”Waktu itu, Pemerintah Indonesia merasa kecolongan lantaran Hatcher mengambil harta karun secara ilegal atau tidak seizin pemerintah,” kata Kepala Subpengendalian dan Pemanfaatan Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata R Widiati di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (18/8).

Bukan itu saja, pada 1999 di Batu Hitam, Bangka Belitung, sebuah perusahaan asing mengambil ratusan batangan emas dan 60.000 porselen China Dinasti Tang yang dilelang senilai 40 juta dollar AS. Setahun kemudian, perusahaan asing yang diduga di bawah kendali Hatcher mengangkut dan melelang 250.000 keramik China dari Selat Gelasa, Bangka Belitung, ke Nagel, balai lelang Jerman.

”Kami tidak mengetahui nilai lelang itu, tetapi kami sempat meminta dan mendapatkan 1.500 keramik untuk disimpan di Indonesia sebagai salah satu bentuk pelestarian peninggalan bawah air,” kata Widiati.

Peninggalan bawah air

Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai kekayaan bawah air. Salah satunya adalah benda-benda berupa keramik, emas batangan, uang logam, guci, gerabah, piring, gelas, mangkuk, dan patung yang ditemukan dari sisa kapal karam.

National Geographic (2001) menyebutkan tentang 7 kapal kuno tenggelam di perairan Indonesia bagian barat, terutama Selat Malaka, pada abad XVII-XX. Kapal-kapal itu adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), serta Ashigara (Jepang).

Hal itu belum termasuk kapal-kapal dagang abad III-XV yang didominasi saudagar China yang singgah atau berdagang di sejumlah pelabuhan pada zaman kerajaan di Nusantara. Misalnya, pendeta China, Yijing, mencatat kunjungannya ke Pelabuhan Sriwijaya pada abad VII untuk belajar bahasa Sanskerta.

”Dalam perjalanan, kapal-kapal itu ada yang karam dan tenggelam. Penyebabnya adalah badai di laut, serangan bajak laut, tabrakan dengan kapal lain, dan perang,” kata Widiati.

Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mencatat, di Indonesia ada enam daerah penemuan benda peninggalan bawah air, yaitu Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Bangka Belitung, Cirebon (pantai utara Jawa Barat), Kalimantan Barat, dan Rembang (pantai utara Jawa Tengah).

Misalnya, pada tahun 1989, di Pulau Buaya, Kepulauan Riau, PT Muara Wisesa Samudera atas izin Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (Panitia Nasional BMKT) mengangkat 30.000 keramik utuh dan barang-barang dari logam, kayu, dan kaca. Barang-barang yang berasal dari Dinasti Song (abad X-XIII) itu berbentuk mangkuk, piring, buli-buli, tempayan, cepuk, dadu botol, vas, dan kendi.

Tahun 2005, PT Adikencana Salvage atas seizin Panitia Nasional BMKT mengangkat 25.000 keramik China dan 15.000 porselen zaman Dinasti Ching di Karang Heluputan dan Teluk Sumpat, Kepulauan Riau. Perusahaan itu juga menemukan koin, peralatan timbang logam, dan tungku China.

Benda-benda serupa juga ditemukan di perairan Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Cirebon, dan Kalimantan Barat. Khusus di Kepulauan Seribu, PT Sulung Segarajaya dan Seabed Explorations, perusahaan Jerman, menemukan 11.000 benda yang terbuat dari aneka logam, seperti emas, perak, perunggu, dan timah.

Menurut Widiati, temuan- temuan itu berasal dari abad X. Dari identifikasi sebagian badan kapal, kapal itu buatan Indonesia yang berlayar dari ibu kota Sriwijaya, Palembang, menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur.

”Para pemburu harta karun itu dapat menemukan lokasi kapal karam berdasarkan catatan perjalanan kapal-kapal tersebut yang tersimpan di berbagai museum atau pembuktian atas laporan dan cerita dari mulut ke mulut warga pesisir di lokasi terdekat,” katanya.

Pada medio 2008 di Rembang, tepatnya di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, sejumlah warga pesisir menemukan perahu kuno relatif utuh di tambak yang berjarak sekitar 1 kilometer dari pantai. Perahu itu berlebar 4 meter dan panjang 15,60 meter

Profesor Pierre-Yves Manguin, arkeolog maritim asal Perancis, yang diundang Balai Arkeologi Yogyakarta untuk meneliti perahu, menyatakan, perahu itu berasal dari zaman peralihan Kerajaan Mataram Kuno ke Sriwijaya, 670-780 Masehi. Hal itu dapat diketahui dari teknologi pembuatan perahu, yaitu menggunakan tambuktu atau balok tempat pasak yang diperkuat dengan ikatan tali ijuk.

Di perahu itu ditemukan pula benda-benda lain, seperti tempurung kelapa, potongan tongkat, dan kepala arca perempuan China berdandan Jawa. Diduga perahu itu merupakan perahu dagang antarpulau.

Saat ini, perahu itu dalam penanganan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Balai tersebut telah mengambil sejumlah contoh berupa kayu perahu, tanah, dan air di sekitar perahu untuk menentukan metode konservasi yang tepat.

Bukti sejarah

Direktorat Peninggalan Bawah Air dan Panitia Nasional BMKT tidak ingin lagi kehilangan harta karun bawah air. Untuk itu, mereka berupaya menyosialisasikan perlindungan temuan bawah air kepada pemerintah daerah dan masyarakat pesisir.

Widiati mengatakan, benda-benda peninggalan bawah air tidak sekadar mempunyai nilai ekonomis, melainkan juga nilai edukatif dan pelestarian. Artinya, kalau benda-benda itu dilarikan ke negara-negara lain, Indonesia tidak lagi memiliki peninggalan bersejarah yang dapat dinikmati dan dipelajari generasi mendatang.

Meskipun benda itu diam, mereka dapat memberikan informasi tentang sejarah perdagangan antarnegara melalui laut, teknologi pembuatan benda, budaya, dan kemajuan suatu negara atau kerajaan. Benda-benda tersebut sekaligus menjadi bukti nyata pelayaran yang pernah dilakukan beberapa bangsa.

”Benda-benda peninggalan bawah air itu termasuk benda cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,” kata Widiati.

Adapun bagi Manguin yang menekuni temuan perahu atau kapal, alat transportasi laut itu merupakan gambaran sebuah bangsa melepas belenggu isolasi samudra, membuka komunikasi, dan berinteraksi dengan bangsa lain. Mereka bertukar pengetahuan, barang, budaya, dan pangan.

Melalui perahu dan kapal, sebuah bangsa membangun politik dan ekonomi maritim. Mereka mengembangkan kekuasaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan dan aneka hasil laut.

”Dari temuan-temuan yang mengisahkan sejarah dan budaya bangsa-bangsa pelaut, Pemerintah Indonesia seharusnya belajar arti penting laut bagi perkembangan sebuah bangsa, bukan malah menganaktirikan laut,” kata Manguin.

SUMBER






Share:

7/11/2009

Graha Maria Annai Velangkanni: Kuil Untuk Bunda Maria

Sore itu di sebuah taman mini, di Graha Maria Annai Velangkanni tampak beberapa ibu-ibu sedang berdiri membaca sebuah ukiran di dinding. Di dinding taman yang diberi nama Taman Mini Santo Giovanni Paolo II itu terukir kalimat terakhir yang pernah diucapkan Musafir dari Polandia Paus Johannes Paulus II: ”Magnificat Animo Dei.”

Di tempat lain di graha itu, beberapa remaja juga terlihat sedang menikmati suasana. “Di sini sejuk dan damai,” kata Joni (23) dan Ida (20), yang baru kali pertama berkunjung. Nurlela (31) lebih sering lagi. Baginya, tempat ini memberi inspirasi. FR James Bharataputra SJ sendiri menjuluki tempat ini sebagai oase di “padang gurun.”


Memasuki Graha Maria Anna Velangkanni di Jl Sakura III No 10 Tanjung Selamat memang suatu pengalaman menarik. Berada di sudut Kota Medan dan jauh dari kebisingan. Di lokasi seluas 6.000 meter persegi orang-orang dapat menikmati kenyamanan dan kesejukan. Di sini setidaknya tertangkap sebuah makna yang pantas diteladani, harmonsasi di antara pluralitas. Semua orang datang untuk “berteduh” di sini, dari berbagai keyakinan dan budaya.

Secara khusus, tempat ini memang diperuntukkan bagi umat Katolik yang hendak melakukan devosi kepada Bunda Maria. Kenyataannya, orang-orang yang berkunjung ke tempat ini datang dari keyakinan yang berbeda seperti Hindu, Islam dan Buddha. Di sisi lain, pertemuan antar budaya dan etnis juga terjadi di sini. “Raju” bersapa dengan “A Seng”, “Ali” bersapa dengan “Togar”, “Sembiring” bersapa dengan “Joko” dan seterusnya dan seterusnya.

Mereka bersatu dan bersahabat di sini. Setidaknya mereka datang untuk menikmati kesejukan taman yang adem secara spiritual. Dan yang pasti keharmonisan terjalin di sini. Ini pantas menjadi teladan, melihat saat ini negara kita sedang dihadapkan dengan konflik yang dilatari agama dan suku seperti yang terjadi di Poso, yang bahkan telah menelan korban jiwa.

Sumatera Utara boleh bangga. Peristiwa seperti itu masih jauh, dan semoga tidak. Graha Bunda Maria Anna Velangkanni dapat dijadikan sebagai wadah pemersatu antar umat beragama di Tanah Air, khususnya di Sumatera Utara. Seperti yang diucapkan sang pencetus ide FR James Bharataputra SJ, “manusia adalah sama sebagai ciptaan Tuhan.”

“Tempat ini menawarkan nilai persatuan itu meski dengan keyakinan yang berbeda.” Seorang India dari Serikat Jesuit (SJ) yang telah berkarya selama 34 tahun di Keuskupan Agung Medan itu berkomentar. Memang, seperti kata James kemudian, seperti oase, graha ini hadir sebagai pelepas dahaga ketika “kekeringan” sedang terjadi. Kesibukan sehari-hari di era modernisasi saat ini mungkin telah membuat orang jenuh dan membutuhkan kesejukan. Untuk itu tempat ini hadir bagi siapa saja, mengundang siapa saja, tanpa pandang bulu untuk merasakan keteduhan sebab tempat ini hadir untuk menyatukan perbedaan.

James mengatakan pembangunan graha ini diawali dari mimpi. “Saya adalah pemimpi hal yang indah-indah, demikian juga dengan hati manusia, saya ingin agar hati setiap orang yang datang ke tempat ini menjadi indah, hati indah yang memiliki kesejukan dan kedamain.”

Inilah yang mengilhami pemikiran James yang masih terlihat bersemangat itu meski usianya kini telah mencapai 69 tahun. Ingatannya pun masih tajam. Pengalaman James hidup di lingkungan budaya Hindu semasa kecil tetap melekat meski ia hidup dengan disiplin Katolik dari kedua orangtuanya. Keharmonisan di antara perbedaan itu memberinya inspirasi untuk mendirikan sebuah graha seperti Velangkanni Shirine yang sudah ada sejak 350 tahun lalu. Dan kini mimpi itu menjadi kenyataan.

Jika melihat dengan utuh model bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 6.000 meter persegi itu, maka yang tertangkap imajinasi adalah nuansa budaya Hindu-Islam. Gaya arsitektur yang diaplikasikan adalah desain bangunan gaya Indo-Mogul yang ngetren di era Kerajaan Mongolia Kuno dulu.

Namun demikian, Pastor James menepis anggapan bahwa tempat ziarah spiritual itu dikhususkan bagi umat Kristen atau budaya tertentu saja. “Saya juga ingin mempersatukan budaya segala bangsa melalui tempat ini,” katanya.

“Pintu Graha Bunda Maria Anna Velangkanni terbuka bagi setiap keyakinan dan budaya untuk mengalami kesejukan iman dari Sang Pencipta karena pada dasarnya ide pendirian graha ini berangkat dari mukjizat yang dialami oleh umat Hindu di India tepatnya di Vailangkanni, sebuah dusun kecil di pesisir Tanjung Bengala bagian India Selatan, di mana mereka mengalami peristiwa penampakan Bunda Maria. Nah, hal itulah yang menginspirasikan berdirinya graha ini.”

James bercerita, pada pertengahan abad-17 atau sekitar 350 tahun yang lalu di Velangkanni, Bunda Maria menampakkan dirinya sebanyak tiga kali. Waktu itu jauh sebelum Maria menampakkan dirinya di Goa Lourdess Prancis dan Portugal. Pada awalnya, Velangkanni Shrine yang ada di India sekarang adalah sebuah kapel kecil. Kemudian dibangun kembali oleh pelaut asal Portugis yang sebelumnya mengalami hempasan badai. Kapal mereka yang hendak menuju Maccau dari Eropa melalui lautan Sri Langka terombang-ambing. Namun mereka akhirnya selamat setelah melakukan devosi kepada Bunda Maria dan dalam devosi itu mereka berjanji akan mendirikan sebuah gereja di mana saja kapal mereka akan berlabuh dengan selamat. Herannya, kapal mereka berlabuh di Velangkanni. Mereka pun menepati janjinya.

Kemudian di tempat ini, sekitar 90 kilometer dari Chennai, Tamil Nadu India, orang-orang yang sakit datang berdoa dan disembuhkan. Nama “Maria Annai”pun diberi yang dalam Bahasa Tamil berarti “bunda”. Tempat ini menarik hati orang-orang dari berbagai bangsa dan kepercayaan mana pun untuk berziarah. Sejak saat itu pula tempat itu dijuluki “Lourdess Timur” dan diangkat statusnya sebagai basilika oleh Sri Paus Yohannes ke-23.

“Saya ingin peristiwa seperti di Velangkanni juga terjadi di Indonesia, kalau bisa diawali dari Kota Medan,” katanya. Pembangunan graha itu pun dimulai pada September 2001. “Saya mulai dengan keyakinan yang teguh bahwa mimpi saya akan terwujud,” kata Pastor James tersenyum.

Pada tahun 2000 Uskup Mgr A G Pius Datubara OFMCap meminta James untuk mendirikan sebuah balai pertemuan khusus untuk orang-orang India Tamil yang tersebar di Kota Medan. James kemudian menyetujuinya dan mengusulkan agar di tempat itu juga didirikan sebuah tempat devosi kepada Bunda Maria. “Dengan demikian kita bisa membina orang dengan imannya,” katanya.

Berawal dari keyakinan pembangunan pun dimulai. Setelah mengurus proses perizinan pendirian pondasi pun dilakukan. Soal dana, James mengatakan ia tak pernah ragu. Pembangunan pun berlanjut. James mengumpamakan, Tuhan sebagai panitia, Bunda Maria menjadi penyedia dana dan ia sendiri sebagai orang yang dihunjuk sebagai pelaksanaanya.

Dalam proses pembangunan, James mengatakan ia dibantu oleh Ir Yohannes Tarigan seorang dosen di Fakultas Teknik di USU dan UNIKA St Thomas Medan selaku konsultan yang menawarkan jasanya dengan gratis. Selama empat tahun akhirnya bangunan selesai dikerjakan. “Saya selalu yakin mimpi saya akan terwujud,” katanya

Soal dana pembangunan James mengaku banyak dibantu banyak pihak, termasuk dari pihak yang berbeda keyakinan. 60 persen berasal dari dalam negeri dan selebihnya dari luar negeri.

***
FEBRUARI 2002 di sebuah rumah di Jl Kediri No 27 (Kampung Keling) Medan, sebuah peristiwa naas terjadi. Rumah itu adalah rumah seorang sahabat di mana Pastor James tinggal untuk sementara. Sahabat itu memberinya sebuah kamar di lantai dua untuk peristirahatan James sementara. Namun naas, lantai dua rumah itu dilahap si jago merah akibat arus pendek. Termasuk kamar James. Yang tersisa hanya puing-puing.

Tiga hari sebelum peristiwa itu, James menaruh senilai uang Rp 10 juta di atas meja kamarnya. Uang itu adalah sumbangan dari Aceh. Untuk diketahui, sebelumnya Pastor James pernah berkarya di Aceh selama 8 tahun dan di Papua selama 3 tahun.

Tiga hari kemudian, ketika sedang menunggu keberangkatan pesawat yang akan kembali ke Medan, ia menerima telepon yang mengatakan bahwa kebakaran telah terjadi dan menghanguskan lantai dua rumah itu, termasuk ruangannya sendiri. “Saya yakin uang itu pasti akan ikut terbakar karena uang itu memang berada di ruangan saya itu.

Anehnya, menurut Pastor uang itu tidak ikut hangus terbakar dan ditemukan dengan utuh di antara puing-puing bangunan yang telah hangus. “Ini aneh dan bagi saya dan ini adalah keajaiban,” kenangnya. Sebelumnya ia meninggalkan uang itu dengan terburu-buru dan tidak sempat menyimpannya di bank sebab harus mengikuti sebuah acara penting di Jakarta.

Keajaiban ini segera tersebar melalui media massa dan dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya terdengar ke daerah lain bahkan ke telinga negeri tetangga, Malaysia dan Singapura. Setelah membaca peristiwa itu dari surat kabar, seorang ibu dari Aceh terharu, datang dan menganjurkan supaya “uang ajaib” itu tidak dipergunakan dan sebaiknya disimpan saja dan menggantikan sejumlah uang itu. “Simpan saja uang itu dan ini sebagai gantinya,” kata ibu tersebut saat itu, seperti yang ditirukan James.

Demikian kisah ini berlanjut, dua lembar dari lembaran-lembaran uang ajaib itu kemudian dibawa oleh seorang sahabat dari Singapura. Melalui cerita sahabat tadi, peristiwa aneh itu pun tersebar dan membuat sebuah keluarga terharu. Tanpa menyebutkan identitas, keluarga itu kemudian memberikan bantuan sebesar Rp 250 juta.

Untuk yang kedua kalinya, setelah James menjelaskan ide pembangunan itu kepada keluarga tersebut dan beberapa keluarga lain di Singapura melalui sahabat yang juga pastor itu, pada waktu yang tidak begitu lama sesudahnya, bantuan dalam jumlah yang sama kembali datang mengalir ke rekening James di bank.

James pun terharu. “Saya semakin heran dan terkejut,” katanya. James kemudian mengundang keluarga itu untuk melihat kondisi graha yang sedang dibangun. Pada waktu yang sama keluarga itu kembali memberikan bantuan untuk ketiga kalinya.

Ketika keluarga itu kembali ke Singapura, Nenek Teresa Yap Lian Hoe seorang ibu tua yang telah puluhan tahun bekerja untuk keluarga itu sebagai pembantu rumah tangga ikut terharu. Pada saat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ibu yang sepanjang hidupnya tidak menikah itu dengan rela memberikan tabungan yang disisihkannya sepanjang hidupya untuk disumbangkan untuk pembangunan graha itu. “Sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir Nenek Teresa Yap Lian Hoe meminta majikannya untuk mengantarkan persembahan seumur hidupnya itu untuk pembangunan graha ini,” kenang James terharu.

Demikian seterusnya, kata James. Bantuan pun datang dari berbagai pihak yang hampir seluruhnya mengalir lewat rekening bank tanpa sepengetahuannya. “Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dana yang mengalir ke rekening sumbangan di bank selalu bertambah setiap minggunya. Saya heran juga…,” cetusnya.

“Padahal setiap minggu saya selalu ambil dana tidak sedikit dan itu saya pergunakan untuk biaya pembelian bahan bangunan dan biaya pekerja dan rekening itu selalu tidak pernah berkurang, bahkan sebaliknya.”

Kini bangunan dengan biaya sebesar Rp 4 milliar itu berdiri seperti pertama kali James memimpikannya. Mimpinya untuk memberikan suatu oase bagi kehidupan manusia yang sedang haus akan segala hal terwujud sudah. James memandang bahwa manusia saat ini sedang dilanda rasa haus dalam berbagai hal, nama dan kehormatan, kekayaan dan uang. Inilah yang sedang melanda manusia modern saat ini dan oase ini hadir untuk melepaskan dahaga mereka. “Silahkan datang hai yang letih dan berbeban berat dan rasakanlah keteduhan di sini,” katanya.

Pada 1 Oktober 2005 dengan resmi dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara Drs Rudolf Pardede dan Uskup Agung Medan Mgr A G Pius Datubara OFMCap. Dan sejak saat itu graha ini menarik banyak orang dari Nusantara dan manca negara.

James sempat menyayangkan kekurangan fasilitas di tempat ini yakni belum tersedianya sarana penginapan untuk mendukung kunjungan peziarah dari luar Kota Medan dan negeri tetangga. Namun kemudian pada tahun 2006 mimpi itu pun terwujud. Meski kapasitas yang tersedia hanya beberapa kamar saja karena keterbatasan tempat namun setidaknya dengan adanya penginapan kecil ini mampu mengatasi kendala yang sering terjadi pada pengunjung yang ingin berlama-lama tanpa harus repot mencari penginapan di tempat lain. Penginapan ini mampu menampung sekitar 20 orang pengunjung, kata James, selain dilengkapi dengan kantin kecil.

***

SORE itu keheningan masih terjaga. Joni dan Ida melanjutkan perkelanaannya di graha itu. Kelihatannya mereka sedang memandang-mandang ke bawah dari lantai dua bangunan graha. Sesekali, keduanya mengamati lukisan-lukisan di dua buah tembok jalan layang naik menuju lantai dua graha itu. Lain pula dengan Nurlela, di dalam ruangan luas di lantai dua itu, ia kelihatannya sedang menikmati keheningan tempat itu. Ia sedang membaca sebuah buku dan kelihatannya tak mau diganggu. Kemudian saya menegurnya. “Saya senang menikmati suasana hening di tempat ini, sepertinya saya merasakan kedamaian,” katanya.

Sementara di halaman luar, beberapa remaja lain kelihatan sedang asyik bergantian dengan kamera ponselnya. Mereka ingin mengabadikan kedatangan mereka di tempat itu. Dan ibu-ibu tadi, ibu-ibu yang serius membaca tulisan di Taman Mini Santo Giovanni Paolo II yang dibangun untuk mengenang almarhum bapa segala bangsa itu, sudah beranjak ke tempat lain. Mereka sedang berdoa di sebuah kapel kecil.

Di kapel kecil yang diberi nama Kapel Maria inilah James mengawali mimpinya. Kapel kecil tempat berdevosi kepada Bunda Maria ini merupakan bangunan awal dari seluruh bangunan yang ada di graha itu. Menurut James, di sinilah doa-doanya sering didengar oleh Tuhan sehingga pembangunan graha terwujud hingga kini.

Maka, meski Graha Maria Anna Velangkanni baru diresmikan pada 2005, kapel ini sudah diresmikan sebelumnya pada 8 September 2001. Sebelum graha seutuhnya dibangun, kapel kecil ini sudah dipergunaan untuk doa harian setiap saat dan Doa Novena setiap Sabtu sore sepanjang tahun.

Dari kapel kecil ini juga, ide simbolis James untuk menyatukan surga dan bumi lahir. James ingin Graha Maria Anna Velangkanni menjadi wadah pertemuan antara surga dan bumi.“Di sinilah surga dan bumi bertemu. Di sinilah Tuhan Pencipta bertemu dengan bangsa manusia, makhluk ciptaan-Nya,” ungkap James.

James menjelaskan, gereja yang ada di lantai atas bertingkat tujuh dengan tiga menara berkubah merupakan simbol langit ke tujuh yaitu surga. Sedang jalan kedua layang yang tampak seperti merangkul, bersama lantai bawah melambangkan bumi. Maka pada dinding jalan layang terlukis kejadian-kejadian penciptaan hari demi hari.

Lukisan-lukisan lainnya secara implisit mewakili tema-tema penjelajahan religius di setiap sudut graha, baik interior maupun eksterior. Mulai dari peristiwa penciptaan, perjamuan kudus, penyaliban, dan kebangkitan. Inilah lukisan-lukisan sederhana namun memberi arti. Lukisan-lukisan yang dipersembahkan G R Andeas (28), lelaki India yang oleh James dijuluki sebagai “Little Micheleangelo”, yang diidentikkan dengan sosok pelukis kesohor Italia Micheleangelo.

Andreas tak pernah mengecap sekolah seni secara formal, tapi ia memiliki bakat memukau sebagai pelukis. “Bagi saya ia seperti Micheleangelo,” kata James.

Lukisan itu ibarat pencerita (story teller). Pembisik makna. Seperti makna desain bangunan yang juga sarat makna. Lantai dasar misalnya merupakan simbol bumi, tempat di mana kita hidup. Aula yang diberi nama aula St Anna, seperti kata James merupakan balai pertemuan umat Tuhan yang datang sebagai saudara tanpa memandang perbedaan suku bangsa, agama, bahasa dan budaya serta perbedaan lainnya.

Maka di tempat ini selain dipergunakan untuk acara berbau rohani, juga dipergunakan oleh orang-orang dari berbagai kalangan untuk mengadakan acara seperti pernikahan, acara adat marga, pertemuan mahasiswa dan berbagai kegiatan lainnya tanpa dipungut biaya standar. Jika biayanya dipatok maka orang-orang arang akan enggan datang ke sini karena persoalan ekonomis, kata James. “Kami hanya menyediakan kotak sumbangan yang nantinya sumbangan itu akan dipergunakan untuk biaya perawatan dan kebersihan.”

Itulah Graha Maria Anna Velangkanni, suatu tempat yang mungkin akan menjadi “oase di padang gurun” di sudut Kota Medan. Tawarannya mengajak kita untuk menghargai pluralitas. Menawarkan komposisi harmonisasi di antara pluralitas. Inilah makna sebuah cinta. Harmoni. Cinta yang berawal dari perbedaan. Sebuah tempat yang menawarkan keindahan, kedamaian dan kesejukan spiritual dan jasmani. Selamat datang dan nikmatilah pesona estetika spiritual ini.

Welcome…and taste the spirit.

Teks: Tonggo Simangunsong
Foto: James Bharataputra SJ collection





sumber
Share:

6/07/2009

Jejak Shaolin di Kwitang

Menyusuri kawasan Kwitang akan selalu dikenalkan dengan sebuah Tugu Tani yang menjadi petunjuknya. Tapi, cerita Kwitang tidak hanya pada tugu setinggi kurang lebih sepuluh meter.

Kwitang menurut ceritanya juga terkenal dengan seorang jagoan Betawi. Jagoan Betawi asal Kwitang ini menambah legenda para pesohor silat lainnya seperti Si Pitung atau Jampang yang melegenda hingga ke seluruh pelosok Jakarta.

Namun epik bukan dari sejumlah nama itu saja. Tak banyak orang yang mengetahui ternyata Kampung Kwitang juga memiliki pesilat tangguh yang tak kalah hebatnya. Dia adalah Kwk Tang Kiam.

Kwik Tang Kiam adalah seorang pesilat asal negeri Tiongkok. Kehebatan pemuda ini dalam ilmu bela diri membawa pengaruh bagi warga di kampung Kwitang.

"Dia memang sangat tersohor di kampung ini. Bahkan kata kakek saya, orang Betawi jaman dulu menyebut daerah ini sebagai kampung si Kwik Tang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang," kata sesepuh Kwitang, Habib Abdul Rahman kepada VIVAnews, di kediamannya Jalan Kembang V No 50, Kwitang, Jakarta Pusat.

Kisah itu berawal pada abad 17 ketika seorang pengembara dari dataran Tiongkok, Kwik Tang Kiam menjejakkan kakinya di tanah Betawi. Konon, Kwik Tang Kiam telah mengembara ke hampir seluruh pelosok daerah Indonesia.

Di salah satu kampung di Betawi pengembara yang juga pedagang obat-obatan tersebut menetap. Selain piawai dalam meracik obat-obatan, ia juga ahli dalam berolah silat.
Di daerah tempat ia menetap, Kwik Tang Kiam menurunkan ilmu silatnya kepada orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

"Banyak orang Betawi di sini yang jago silat, salah satunya Mat Zailani. Aliran silat di sini dikenal dengan sebuatan Si Ulung (perpaduan antara kekuatan fisik dan kebatinan)," ungkap pria 67 tahun itu.

Memang kehebatan ilmu silat Kwik Tang Kiam diakui masyarakat Betawi saat itu. Silat yang diajarkannya menggunakan jurus-jurus ampuh mirip aliran Shaolin yang memadukan unsur tenaga, kekuatan fisik dan kecepatan.

Hal ini sangat berbeda dengan aliran silat Betawi yang lebih menonjolkan ilmu kebatinan. Walau demikian Kwik Tang Kiam mengakui kehebatan ilmu kebatinan silat Betawi.

"Konon sejak itulah Kwik Tang Kiam menetap di kampung ini, dan para sesepuh di sini banyak yang mengatakan dia akhirnya memeluk agama Islam," paparnya.

Cerita lain Kwik Tang Kiam menyebutkan dia adalah seorang tuan tanah yang kaya. Hampir semua tanah yang terdapat di daerah tersebut adalah miliknya.

Saking luasnya tanah milik Kwik Tang kiam, orang Betawi menyebut kampungnye si Kwik Tang. Konon juga Kwik Tang memiliki seorang anak tunggal yang suka berjudi dan mabuk.

Setelah Kwik Tang Kiam meninggal dunia, anaknya yang suka berjudi dan mabuk Kwitang itu malah menjual semua tanah milik bapaknya kepada saudagar keturunan Arab.

Sejak itulah banyak keturunan Arab yang tinggal di Kampung Kwitang.

Selain silat, kampung Kwitang sejak tahun 1890 terkenal dengan sebuah perkumpulan majelis taklimnya. "Warga Betawi di Kwitang agama Islamnya cukup kuat, meskipun banyak warga Tionghoanya," ujarnya.

Lain dulu, lain sekarang. Kini kehebatan para pesilat di kampung Kwitang nyaris tak terdengar.

Bagi masyarakat Jakarta kampung Kwitang selalu identik dengan para penjual buku-buku baru dan bekas, meskipun Pemerintah Provinsi DKI sudah merelokasi para pedagang buku di Kwitang ke Pasar Proyek Senen.

"Ya inilah wajah Kwitang saat ini, tapi jangan lupa anak-anak Kwitang masih jago kalau soal silat. Ente jual, ane beli," selorohnya.
sumber




Share:

1/28/2009

Road To Jogja part II: TUGU JOGJA LEBIH DEKAT

Malam itu kira-kira pukul 23:30 wib aku berkesempatan mengunjungi Tugu Jogja secara lebih dekat karena seharian tadi cuma memandangi dari kejauhan dan lewat saja di depannya saja. Wuih tapi rame banget, banyak anak-anak yang berfoto-foto ria didepannya. Jadi aku mengantri , tapi ga begitu lama dan aku mulai pose deh hehehe bukannya narsis tapi mumpung maen di Jogja ya sekalian foto gitu sekalian buat dijadikan "barang bukti" kalau aku pernah ke Jogja. Sepeda motoran lagi dari Malang.Ga Usah dibayangin deh capeknya..
Tugu jogja ini nampak kokoh berdiri di tengah perempatan jalan, disorot lampu berwarna oranye sama dengan kebanyakan gedung-gedung kuno di Jogja lainnya. Pokoknya keren deh..beda dengan tugu di Malang yang ga bisa disentuh karena dikelilingi pagar dan kolam.
Ingin tahu lebih banyak tentang Tugu Jogja ini, baca ulasannya berikut ini:

Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.

Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.

Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.

Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.

Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.

Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.

Bila anda ingin memandang Tugu Jogja sepuasnya sambil mengenang makna filosofisnya, tersedia bangku yang menghadap ke tugu di pojok Jl. Pangeran Mangkubumi. Pukul 05.00 - 06.00 pagi hari merupakan saat yang tepat, saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang. Sesekali mungkin anda akan disapa dengan senyum ramah loper koran yang hendak menuju kantor sirkulasi harian Kedaulatan Rakyat.

Sore hingga tengah malam, ada penjual gudeg (masakan khas Yogyakarta) di pojok Jl. Diponegoro. Gudeg di sini terkenal enak dan harganya wajar. Anda bisa makan secara lesehan sambil menikmati pemandangan ke arah Tugu Jogja yang sedang bermandikan cahaya.

Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Mungkin hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.
diambil dari:
http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/museum-and-monument/tugu-jogja/
dan ini beberapa hasil foto dokumnetasiku waktu di Depan tugu Jogja. Pengalaman yang tidak akan terlupakan buat diriku.

Share:

1/05/2009

Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran

Perjumpaan agama Katolik dengan Masyarakat Ganjuran
• Kehidupan Religi pada awal berdirinya Candi Ganjuran ini didominasi oleh masyarakat muslim yang taat
• Sejarah Candi Hati Kudus Tuhan Yesus atau akrab disebut Candi Ganjuran tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Pabrik gula Gondang Lipuro yang terdapat disebelah utara Gereja yang berdiri pada tahun 1862.
• Pabrik Gula ini dibangun oleh keluarga Schmutzer yang berasal dari orang Belanda
• Keluarga Schmutzer merupakan keluarga Katolik yang pertama yang tinggal di Ganjuran
• Oleh penduduk skitar Keluarga Schmutzer ini dikenal sebagai keluarga yang ramah, suka memberi dan perhatian pada masyarakat sekitar sehingga sangat disegani.
• Sebagai wujud solidaritasnya, mereka membuka kesempatan kerja, mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit Ganjuran
• Karena di daerah Ganjuran belum ada gereja kemudian Keluarga Schmutzer membangun gereja Ganjuran
• Pada perkembangannya agama Katolik mulai diterima oleh masyarakat Ganjuran dan tidak lama kemudian rata-rata pekerja pabrik gula miliknya memeluk agama Katolik.
• Hingga kini umatnya terus berkembang namun pada bulan Mei 2006 Gereja ini roboh karena diguncang Gempa
Bentuk inkulturasi
• Dalam pertemuan sinode para uskup di Roma tahun 1977,tentang katakese yang dikutip oleh Banawiratma (1986:88), telah dikeluarkan naskah terakhir “pesan kepada umat Allah”, yang intinya me
• Menekankan agar warta dan pesan Kristus harus berakar pada kebudayaan setempat.
• Istilah adaptation dari bahasa Latin adaptatio yang berarti penyesuaian (dengan.....) disini berarti penyesuaian Injil dengan kebudayaan, tetapi menekankan perubahan yang sifatnya melintas dan tidak mendalam, hanya secara eksternal atau lahiriah (De Liturgi Romana et Inculturatione, 1995:14)
• Pada hakikatnya Gereja Katolik mengakui bahwa dalam unsur-unsur kebudayaan setempat, dalam masyarakat setempat, dalam masyarakat setempat yang tunduk mentaati kebudayaaannya , terdapat nilai-nilai budaya, moral, kemanusiaan serta religius yang mereka hayati.
• Hal ini menjadi Inspirasi bagi Joseph Schmutzer untuk mendirikan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus
• Candi ini bercorak arsitektur Hindu-Jawa (Mataram dan Majapahit) itu mulai dibangun pada 1927 dan diberkati oleh Uskup Jakarta Mgr. van Velsen SJ pada 11 Februari 1930 (tanggal penampakan Bunda Maria di Lordes).
• Pada saat itu bumi Nusantara juga dipersembahkan kepada Hati Kudus Tuhan Yesus
• Bangunan ini dirancang dengan perpaduan gaya Eropa, Jawa, Buddha dan Hindu.
• Gaya Eropa dapat ditemui pada bentuk bangunan berupa salib bila dilihat dari udara.
• Teras candi yang berhias relief bunga teratai ini mengingatkan kita pada ciri khas agama Buddha
• Candi ini juga kental bernuansa Kebudayaan Jawa-nya.
• Hal ini ditunjukkan dari beberapa hal, antara lain:
1. Batu dari candi ini diambil dari gunung Merapi. Gunung Merapi merupakan salah satu Simbol Gunung yang di keramatkan oleh masyarakat Yogyakarta
2. Candi ini menghadap ke pantai laut Selatan sebagai simbol penghormatan terhadap Penguasa laut Selatan Yaitu Nyi Roro Kidul
3. Nuansa Jawa juga terlihat pada altar, sancristi (tempat menyimpan peralatan misa), doopvont (wadah air untuk baptis) dan chatevummenen (tempat katekis).

4. Di dalam candi sendiri bertahta patung Kristus Raja, lambang kehadiran Tuhan sebgai Bapa. Patung/ Arca ini berwujud Tuhan Yesus sebagai Raja dengan berpakaian kebesaran layaknya raja Jawa yang duduk diatas singasana tangan kirinya menyibak pakaian depannya dan tangan kanannya menunjukkan ke arah hatinya yang bersinar.
5. Dan diatasnya tertulis Aksara Jawa yang berarti: “Sampeyan Dalem Maha Prabu Yesus Kristus Pangeraning Bangsa “
6. Patung Yesus dan Bunda Maria yang tengah menggendong putranya juga digambarkan tengah memakai pakaian Jawa.
7. Demikian pula relief-relief pada tiap pemberhentian jalan salib, Yesus digambarkan memiliki rambut mirip seorang pendeta Hindu.
8. Gaya Jawa bisa dilihat pada atap yang berbentuk tajug, bisa digunakan sebagai atap tempat ibadah. Atap itu disokong oleh empat tiang kayu jati, melambangkan empat penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.
• Sedang dari Hindu sendiri diwakili dengan adanya patirtan atau petirtaan sebagaimana khasnya seperti kebanyakan candi Hindu lain yang usianya jauh lebih tua dari Candi Ganjuran ini, tidak pernah lepas dari sumber mata air.
• Karena orang pertama yang disembuhkan bernama Perwita, maka untuk mengenangnya, air berkhasiat itu kini disebut Tirta Perwitasari.
• Sumber aliran air ini kemudian disalurkan dalam beberapa kran yang berjumlah sembilan, ditempatkan di belakang candi yang dapat dimanfaatkan oleh semua umat
• Dibuat sembilan titik kran juga ada maksud tertentu yang disesuaikan dengan tinggi bangunan candi 9 meter dan jumlah tangga naik ke tingkatan Swarloka tempat arca Hati Kudus Yesus bertahta.
• Dengan diresamikannya Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran sebagai tempat ziarah oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. I Suharyo Pr , pada 1998, maka terpenuhilah persyaratan tempat ziarah seturut Kitab Hukum Kanonik
Pesan iman yang disampaikan dari Candi Hati Kudus Tuhan Yesus
• Joseph selaku arsitek arca itu pasti memperhitungkan tidak hanya didasarkan pada rasa seni yang tinggi tetapi juga iman yang mendalam akan Kristus
• Dalam pengalaman devosinya, Joseph merasakan bahwa dalam Yesus Kristus , Kekuatan yang paling menonjol terletak di hati-Nya
• Ia memperlihatkan Hati Kudus-Nya yang bernyala-nyala kepada semua orang ,siapapun, apapun adanya, apapun sikapnya disikapi sama yaitu DICINTAI secara total dan tanpa pamrih.
• Sedangkan pakaian Jawa yang dikenakan Kristus Raja hendak memperlihatkan bahwa cinta Yesus mengatasi ruang dan waktu.
• Hatinya yang tertikam( menggambarkan bahwa sebelum Yesus wafat di kayu salib seorang prajurit Romawi menghujamkan tombaknya tepat si hatinya untuk memastikan bahwa Yesus harus benar-benar mati saat disalib ) mengalirkan berkat untuk semua orang sepanjang masa.
• Maka pakaian Jawa dapat menyatakan bahwa Yesus penuh cinta hadir secara konkret dan menyapa setiap orang dalam budayanya masing-masing tanpa memandang bulu melimpahkan berkat kepada yang memohon.
• Apa yang dialami Schmutzer itu sekarang menjadi pengalaman banyak orang yang datang ke Ganjuran untuk berdoa dan berdevosi( meminta secara khusus)
• Dengan devosi kepada Hati kudus Yesus , mereka semakin merasakan kedekatan dengan Tuhan. Tuhan hadir dan menyapa setiap hati sesuai dengan pengalaman hidupnya .
• Pengalaman ini meningkatkan kedisiplinan diri untuk memupuk hidup rohani, meningkatkan doa dan ibadat, memupuk perasaan religius dan menyegarkan hidup beragama.

• Paroki Ganjuran berusaha mengarahkan agar kehidupan devosional kepada Hati Kudus Tuhan Yesus dengan membuat semacam visi perziarahan yaitu nyuwun berkat, ngalap berkah lan dados berkah ( memohon berkat, menikmati berkat dan menjadi berkat).
• Untuk mewujudkan visi ini sebagian besar pemasukan keuangan dari para peziarah digunakan untuk pelayanan sosial terutama untuk kepentingan orang sakit
• Candi Hati Kudus Yesus berfungsi sebagai tempat meditasi umat Katolik yang ingin mendekatkan diri pada Tuhan . Hal ini disebabkan antara lain:
• Kian merebaknya kemerosotan iman dan moralitas di kalangan umat khususnya dan masyarakat pada umumnya, terlebih lagi di kalangan pimpinan dan tokoh yang seharusnya menjadi panutan
• Kian merajalelanya kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kehidupan dan kelestarian alam ciptaan, sebagaimana yang menggejala dalam aneka kekerasan lahir batin yang dialami anak-anak bangsa.
• Terpinggirkannya tradisi budaya bermuatan nilai-nilai moral-religius yang mampu mengantar umat dan masyarakat pada sikap peduli atas berbagai kondisi yang perlu dibenahi.
• Keprihatinan tersebut menumbuhkan harapan agar makin banyak orang dan para tokoh panutan yang merasakan kasih Hati Kudus Tuhan Yesus, sehingga mampu menimba nilai-nilai kasih, lalu mengamalkannya di mana pun mereka berada, sehingga menjadi berkat bagi orang lain.
Share:

11/24/2008

KUBURAN 118 PIRAMIDA : GURUN SAQQARA

KAIRO - Para arkeolog menemukan piramida baru di Gurun Saqqara Mesir. Piramida tersebut diprediksi berusia 4300 tahun. Piramida diduga milik seorang ratu pada dinasti keenam Mesir Lama.

Menurut pimpinan lembaga purbakala Mesir Zahi Hawass, piramida tersebut diduga milik seorang ratu pendiri Dinasti keenam Mesir. Ini berarti dibangun beberapa ratus tahun setelah Piramida Giza didirikan.

Penemuan ini merupakan bagian dari proyek penggalian situs sejarah di Memphis, yang saat itu merupakan ibu kota Kerajaan Lama Mesir, sekira 19 km selatan Giza.

Piramida yang baru ditemukan beradadi kedalaman 25 meter dengan tinggi 5 meter. "Saat ditemukan banyak sekali pasir di dalamnya. Tidak satu pun orang memiliki ide untuk memasukinya," kata Hawass seperti dikutip Associated Press, Rabu (12/11/2008).

Hawass bersama timnya sudah melakukan eskavasi (penggalian situs sejarah) di lokasi ini selama dua tahun. Namun baru dua bulan ini mereka menentukan lokasi yang ternyata tepat ditemukan piramida itu. Panjang lokasi yang digali mencapai 22 meter. Selain itu, mereka juga menemukan bagian dari piramida, seperti kumpulan batu kapur yang digunakam untuk membangun struktur piramida. Hawass memprediksikan dalam kondisi utuh, piramida ini memiliki tinggi 14 meter.

Ini merupakan piramida yang ke-118 ditemukan di Mesir. "Untuk menemukan piramida baru, sangat menyenangkan. Namun yang satu ini merupakan keanehan karena piramida ini milik ratu," papar Hawass.

Hawass meyakini piramida ini milik Ratu Sesheshet, seorang yang sangat berjasa dalam pembentukan dinasti keenam Mesir. Dia juga dikenal menyatukan dua keluarga kerajaan yang bersengketa saat itu.

Penemuan ini juga memiliki arti penting untuk mengungkap sejarah Dinasti keenam Mesir yang berkuasa antara 2322 tahun hingga 2151 sebelum masehi (SM). Ini merupakan generasi terakhir dari Kerajaan Lama Mesir.

Gurun Saqqara juga dikenal dengan Step pyramid og King Djoser yang dibangun 27 tahun SM. Piramida terakhir ditemukan tiga tahun lalu di daerah yang sama. Piramida tersebut merupakan milik isteri dari pelanjut Teti (anak ratu pemilik piramdia yang baru ditemukan), yaitu Pepi I.

Saat ini baru sepertiga dari kawasan situs bersejarah Gurun Saqqara yang sudah dieksplorasi para arkeolog.
Share:

11/09/2008

PERJALANANKU KE GUA MARIA LOURDES POHSARANG KEDIRI(Plus Foto-foto Eksklusif dari Kamera digitalku)






Malang, 28 November 2008 pada pukul
13:30 wib
Saya dengan teman saya melakukan perjalanan ziarah ke Goa Maria Pohsarang Di Kota Kediri menggunakan sepeda motor.Kami tidak pernah merencanakannya sebelumnya jadi kami menempuh perjalanan tanpa adanya persiapan yang memeadai. Tapi hal itu tak menyutrutkan tekad kami untuk bertemu Bunda Maria
14:00 wib
kami lewat jalur Malang-Batu-Pujon yang berkelok-kelok dan sempit.Di daerah pujon adalah dataran tinggi jadi hawanya dingin sekali. Jika melewati daerah ini saya sarankan memakai jaket yang cukup hangat dan sarung tangan
14:30 wib
perjalanan kami lumayan lancar hanya di km ke 34 menuju kota Pare kediri kami kehujanan yang membuat perjalanan kami semakin berat karena kami harus melawan derasnya hujan.Saya tidak berani memacu sepeda motor saya lebih cepat seperti biasanya karena jalanan licin dan pandangan saya tidak begitu bebas karena derasnya hujan.
15:00 wib
Hujan sudah reda,kami hampir sampai dikota Pare Kediri

15:30 wib
kami masih diperjalanan sempat mampir ke SPBU dan menanyakan arah ke Pohsarang. Menurut petugas SPBU Perjalanan kami masih jauh

16:00 wib
setelah berputar-putar sejenak dan bertanya-tanya akhirnya sampai di tempat yang kami tuju. Gua Maria Pohsarang

Gereja Puhsarang didirikan oleh Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1936 atas permintaan pastor paroki Kediri pada waktu itu, Pastor H. Wolters, CM. Insinyur tersebut juga menangani pembangunan Museum di Trowulan, Mojokerto, yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit.Bangunan gereja Pohsarang mirip dengan bangunan museum Trowulan yang sudah hancur karena tidak terawat dan ketiadaan dana perawatan pada tahun 1960, maka dengan melihat gereja sekarang kita bisa membayangkan bagaimanakah bentuk museum Trowulan dulu kala.Pastor Wolters, CM, lah yang meminta agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam membangun gereja di stasi Pohsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu.

Kompleks gereja Pohsarang merupakan suatu usaha untuk menampilkan iman kristiani dan tempat ibadat katolik dalam budaya setempat. Banyak orang berpendapat bahwa bangunan yang dibuat di Pohsarang indah dan unik serta merupakan karya monumental yang patut untuk dipelihara dan dijaga agar jangan musnah seperti museum Trowulan.Gereja Puhsarang yang menampilkan gaya Majapahit tapi dikombinasikan dengan gaya dari daerah lain dan iman kristiani. Yulianto Sumalyo dalam buku yang berjudul `Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1993" menulis mengenai gereja Puh Sarang sebagai berikut : "Seperti pada bangunan Trowulan, Tegal dan lain-lain untuk membangun gereja Pohsarang selalu menggunakan bahan-bahan lokal. Maclaine Pont menggunakan juga buruh setempat selain beberapa tukang yang sudah berpengalaman pada saat membangun museum.Gereja yang sarat dengan simbolisme ini merupakan suatu karya arsitektur yang sangat berhasil dilihat dari berbagai segi: mulai dari lokasi, tata massa, bahan bangunan, struktur dan ten tu saja fungsi dan keindahannya. Semua aspek termasuk budaya setempat dan filsafat agama dipadukan dalam bentuk arsitektur dengan amat selaras"
Sore itu kami sempat melihat kebaktian yang dilakukan umat setempat untuk mendoakan leluhur mereka yang dimakamkan di pemakaman di dalam kompleks Gua Maria Pohsarang dengan memberi lilin satu persatu di pusara leluhur mereka.
Tak terasa hari semakin sore
Kami menyempatkan berdoa bersama disekitar Gua Maria.Tidak lupa kami 'mencicipi' air sucinya dan memasukkannya dalam sebuah botol kecil sebagai oleh2.

18:00
Perlahan kami meninggalkan kompleks Gua Maria
Kami menuju kota Kediri untuk membeli oleh2 yang lain yaitu Mangga. Kami juga mengisi perut kami dengan Soto yang harganya murah meriah. Hanya dengan Rp 2500 cukup untuk mengobati rasa lapar selama diperjalanan sampai kami meningglkan kota Kediri
Share:

Trevi Fountain: Keajaiban di Balik Keanggunannya


Trevi Fountain, kolam air mancur terkenal yang terletak di kota Roma menyimpan berjuta pesona. Dengan tinggi 19,8 meter dan lebar 25,9 meter, kolam air bergaya Baroque ini menjulang megah di kota Roma. Menurut wikipedia, kolam air mancur ini dibangun pada abad 19 Masehi.Kolam air ini juga memberika kisah yang unik, bagi sebagian orang yang percaya dengan melemparkan uang koin ke kolam ini kelak akan kembali lagi ke Kota Roma.percaya atau tidak, banyak orang yang terkesan dengan kolam air Mancur ini..
Share:

11/01/2008

PIRAMIDA-PIRAMIDA DISELURUH DUNIA










Ternyata macam-macam Piramid/Piramida di dunia ini banyak banget. Tidak hanya di Mesir yang terkenal dan kita ketahui. Mungkin dengan gambar2 dalam halaman ini dapat menambah pengetahuan pembaca bahwa Piramid di Dunia ini sangat beragam. Misal:
1.Piramida Chitzen Itza peninggalan peradaban suku Maya di Mexico
2.Kuil Gangaikondacholisvaram di India
3. Chinesse Piramid/Piramida China di Xi'an
4. Monks Moud di Cahokia, Illinois USA
5. Piramida Nubia di perbatasan Sudan-Mesir
6. Piramida Bosnia di Bosnia Herzegovina
7. Piramida Cestius di Roma Italia
8. Piramida Tibet di Tibet China
9. Ziggurat di Irak
Share:

7/02/2008

ISTANA GEBANG, WHAT THIS?


Istana gebang adalah rumah kediaman mantan presiden Indonesia yaitu Ir.Sukarno. Istana ini terletak di Jl. Sultan Agung atau 2 km dari makam beliau. Istana ini didominasi oleh warna hijau dengan bangunan utama dengan atap menghadap kedepan.Waktu saya mengunjunginya kemarin (1 juli 2008) Istana yang katanya mau dijual ini tampak lengang dan sempat saya kira tutup kemudian ada anak kecil yang menawari saya untuk mempersilakan saya masuk. Saya tentu tidak menyianyiakan kesempatan ini, pada ruang tamu bantak sekali terdapat foto-foto dan lukisan-lukisan bung Karno dan keluarga juga terdapat barang-barang koleksi dari keluarga Bung Karno berupa bokor, keris dan masih banyak lagi. Istana ini terawat dengan baik namun seperti kebanyakan rumah-rumah kuno,baunya lembab karena memang sudah tidak didiami lagi. Dalam gedung utama terdapat 5 buah kamar, hanya kamar Bung Karno saja yang boleh dibuka sedang 4 kamar yang lain ditutup. Dalam kamar Bung Karno terdapat 1 buah tempat tidur yang dilindungi oleh tirai berwarna putih, sarung bantalnya juga putih namun sekali lagi kelembabannya sangat terasa sekali. bikin ga betah berlama-lama didalam. kemudian saya melangkah ke belakang. Di halaman belakang terdapat gedung yang berfungsi sebagai garasi, kamar mandi, wc, dapur dan temapt bercengkrama. Di dalam garasi terdapat sebuah mobil peninggalan Bung Karno berwarna hitam dengan background lambang negara kita yaitu burung Garuda. Sayang saya tidak bisa melihat kamar mandinya karena hanya boleh digunakan oleh pihak keluarga beliau..tidak lupa saya mengabadikannya dengan kamera saya.
Tak lama kemudian saya dikagetkan dengan suara kegaduhan pengunjung yang mulai ramai berdatangan, setelah saya cek di buku tamu rupanya rombongan ini berasal dari luar Jawa. Memang sosok Bung Karno ini terkenal di seluruh penjuru Indonesia hingga kini orang tidak mudah melupakannya.. Sosok yang memang dilahirkan sebagai pemimpin...
Share:

6/20/2008

BLUE MOSQUE HAGIA SOPHIA


Pada tahun 1453, Hagia Sophia ialah gereja katedral (basilika) Bizantium yang dibangun oleh Konstantius, putra Konstantin yang Agung. Gereja ini sering jatuh bangun dihantam gempa, meski bangunannya dibuat berbentuk kubah. Pada 7 Mei 558, di masa Kaisar Justinianus, kubah setelah timur runtuh terkena gempa. Pada 26 Oktober 986, pada masa pemerintahan Kaisar Basil II (958-1025, kembali terkena gempa. Akhirnya renovasi besar-besaran dilakukan agar tak terkena gempa di awal abad ke-14. Keistimewaan bangunan ini terletak pada bentuk kubahnya yang besar dan tinggi. Ukuran tenghnya 30 m. Tinggi dan fundamennya 54 m. Interiornya dihiasi mosaik dan fresko, tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni, dan dindingnya dihiasi ukiran.Saat Konstantinopel ditaklukkan Sultan Mehmed II pada hari Selasa 27 Mei 1453 dan memasuki kota itu, Mehmed II turun dari kudanya dan bersujud syukur kepada Allah, lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan mengubahnya menjadi masjid yang dikenal dengan Aya Sofia. Jum'atnya langsung diubah menjadi masjid untuk sholat Jum'at.Di dalam Hagia Sofia, Istanbul, Turki, Juni 1994Berbagai modifikasi terhadap bangunan segera dilakukan agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan mesjid. Pada masa Mehmed II (1444-1446 dan 1451-1481) dibuat menara di selatan. Selim II (1566-1574) membangun 2 menara dan mengubah bagian bangunan bercirikan gereja. Termasuk mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit. Lantas selama hampir 500 tahun Hagia Sophia berfungsi sebagai mesjid. Patung, salib, dan lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat.Pada tahun 1937, Mustafa Kemal Atatürk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum. Mulailah proyek "Pembongkaran Hagia Sophia". Beberapa bagian dinding dan langit-langit dikerok dari cat-cat kaligrafi hingga ditemukan kembali lukisan-lukisan sakral Kristen.Sejak saat itu, Masjid Aya Sofya dijadikan salah satu objek wisata terkenal oleh pemerintah Turki di Istambul. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah mempesona.
Share:



IndoBanner Exchanges

MY ID YAHOO MASSENGER

view

http://bacablog.com

About Me

Foto saya
Aku adalah anak manusia yang hanya numpang singgah di bumi ini. Kini aku sedang mengisi dan melakukan sesuatu untuk mengisi waktuku di dunia ini EMAIL & FS jOIN ON adaeuvoli@gmail.com

Pengikut

Personal Business Directory - BTS LocalDigNow.orgTopOfBlogs Personal My BlogCatalog BlogRank live google page rank
Personal Blogs - Blog Catalog Blog Directory
EasyHits4u Ranking Blogger Ngalam
Masukkan Code ini K1-2C333A-A
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com!-- Histats.com START --> Check Google Page Rank

ADAMAKNA

BLOGGER INDONESIA

ABSEN DISINI


ShoutMix chat widget
Bisnis Internet | Bisnis Online | Uang dari Internet |  Duit gratis | komisi 80%
Earn money from your website/blog by, selling text links, banner ads - Advertisers can, buy links, from your blog for SEO. Get paid through PayPal

Blogger templates

Blogger templates