This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan

11/01/2010

Planet Mars bisa di huni lho!

Pencarian planet-planet baru yang bisa dihuni masih belum berhenti. Misi lama, seperti mencari tanda-tanda kehidupan di Mars dan kemungkinannnya untuk bisa dihuni, hingga kini masih dijalankan.

Menggunakan spektrometer Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA, para peneliti dari Brown University baru-baru ini menemukan gundukan mineral silika di planet Mars. Mereka menemukannya di daerah planet yang disebut Syrtis Major, tepatnya di wilayah gunung berapi Nili Patera yang berusia 3,7 milyar tahun.

Melihat letaknya yang ada di dekat gunung berapi, peneliti menduga bahwa gundukan silika itu berasal dari sumber air panas yang pernah ada di wilayah itu. Gundukan itu terbentuk ketika air panas keluar dan melarutkan batuan, membuatnya kaya akan mineral silika yang berasal dari batuan. Ketika air mendingin dan kontak dengan udara, material yang disebut hydrated silika terbentuk, menyusun gundukan yang kini ditemukan.

Adanya gundukan silika yang berasal dari sumber air panas ini, menurut peneliti, merupakan salah satu tanda bahwa ada lingkungan kecil di Planet Merah yang bisa dihuni. "Ketika anda punya air dan panas, seperti yang terdapat di tempat ini, anda punya kesempatan untuk tinggal dan hidup," kata John Mustard, professor geologi yang terlibat dalam penelitian ini.

Peneliti lain, J.R. Skok, yang juga berasal dari universitas yang sama menduga, adanya sumber air panas itu paling tidak menandakan pernah ada kehidupan primitif, seperti mikroorganisme. Jika hipotesis tersebut benar, ia mengungkapkan, "Akan sangat mungkin untuk menemukan kumpulan fosil mikroorganisme di wilayah itu."

Sejauh ini, belum ada bukti nyata tentang adanya kehidupan di Mars. Namun, temuan adanya silika di Mars ini bukanlah yang pertama kalinya. Penemuan sebelumnya pernah dilakukan pada tahun 2007 oleh misi Mars Spirit milik NASA. Keunikan temuan ini adalah adanya gundukan silika yang utuh.

Hasil penelitian ini dipublikasikan oleh John Mustard dan J.R. Skok di Jurnal Nature Geoscience tanggal 31 Oktober 2010, kemarin. Ke depannya, para peneliti berharap bisa mendeteksi seberapa mampu lingkungan ini untuk dihuni, misalnya dengan melihat temperatur dan keasamannya.
SUMBER
Share:

3/07/2010

Resolusi Dieng dan Situs-situsnya

Dua tokoh perempuan beda generasi bertutur soal isu penyelamatan lingkungan. Seorang Poppy Susanti Dharsono (58) mencemaskan efek penggurunan dengan contoh dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Seorang lainnya, yaitu Inayah Wulandari (27), menandaskan secara politis mengutip almarhum ayahnya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yaitu ”sekalipun negara berdaulat jika tidak memerhatikan lingkungan sama saja tidak berdaulat”.

Keduanya memang dikenal publik. Tetapi, bukan karena aktivitas pembelaan lingkungan mereka. Ketika mereka berbicara, ini menandakan bahwa kerusakan lingkungan sudah membuat gerah setiap orang, apa pun profesinya.

Poppy dikenal malang melintang dalam hal perancangan busana. Ia sekarang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2009-2014 daerah pemilihan Jawa Tengah. Pada Jumat (8/1) lalu ia menggelar konferensi pers sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik setelah menjalani masa reses ke Jawa Tengah, wilayah konstituennya, antara 11-31 Desember 2009.

Poppy meresahkan prediksi, 10 tahun ke depan dataran tinggi Dieng akan berubah menjadi gurun. Ia tidak langsung menukik pada persoalan penghutanan kembali Dieng. Tetapi, meminta pemerintah agar segera merevitalisasi bangunan-bangunan arkais peninggalan Mataram Hindu di Dieng. ”Pemerintah harus menengok Machu Picchu (kota Inca yang hilang) di Peru,” ujar Poppy.

Machu Picchu, tatanan kota arkais peninggalan suku Inca di Peru yang kini menjadi satu di antara tujuh keajaiban dunia yang baru.

”Tidak mustahil banyaknya candi Hindu di Dieng menjadi pesona wisata masa lalu, seperti Machu Picchu. Candi-candi itu peninggalan wangsa Syailendra abad VIII. Itu berpotensi menjadi ’Machu Picchu’-nya Indonesia,” kata Poppy.

Charlie Chaplin singgah

Revitalisasi tempat bersejarah di Dieng diharapkan bisa memberikan pendapatan baru dari sektor pariwisata. Ekonomi masyarakat setempat diharapkan membaik. Lalu, masyarakat tidak lagi bertumpu pada hidup bercocok tanam di lahan yang semestinya dijaga sebagai hutan. ”Pada tahun 1920-an Charlie Chaplin (1889-1997) pernah singgah ke Dieng. Tentunya Dieng dulu sangat indah,” ujar Poppy.

Memulihkan hutan dan merevitalisasi potensi keekonomian lainnya yang bersifat otentik lokal dan unik, menurut Poppy, pada akhirnya akan menunjang daya saing pada era perdagangan bebas di negara-negara ASEAN-China seperti sekarang.

Berikutnya, Inayah. Ia hadir sebagai salah satu narasumber forum Pandangan Lingkungan 2010 (Environmental Outlook 2010) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) di Jakarta Media Center (JMC).

Kehadirannya sekaligus mewakili keluarga besar Gus Dur. Ia diundang untuk menyaksikan prosesi penobatan almarhum ayahnya sebagai pejuang penyelamat lingkungan oleh Walhi.

Pada kesempatan berbicara, Inayah tidak menyampaikan apa saja yang sudah dilakukan Gus Dur demi penyelamatan lingkungan. ”Kita bisa googling (mencari informasi dari situs internet) kalau ingin melihat kebijakan beliau semasa menjadi presiden,” ujar Inayah.

”Saya hendak menyampaikan hal-hal yang tidak pernah diketahui publik mengenai Gus Dur,” kata Inayah.

Dia mengutarakan, almarhum ayahnya memiliki perhatian terhadap keteraturan hal-hal kecil. ”Seperti ritual pagi setelah mandi, biasa memakai obat ketek sebelum menyisir rambut. Ketika ada ajudan yang keliru menyampaikan sisir dulu sebelum obat ketek, Gus Dur tidak akan menerima sisir itu. Gus Dur akan diam saja sampai diberikan obat ketek sesuai yang biasa dilakukan,” ujar Inayah.

Berangkat dari keteraturan hal-hal kecil, Gus Dur memegang prinsip-prinsip hal besar, seperti mengenai kedaulatan suatu bangsa. Negara berdaulat yang tak mampu memerhatikan isu lingkungannya sama saja tak berdaulat.

Resolusi 2010

Isu melawan fenomena penggurunan dilontarkan Poppy. Isu menegakkan kedaulatan bangsa dengan memerhatikan lingkungan disampaikan Inayah. Kedua hal itu segaris dengan resolusi 2010 yang ingin dikejar Walhi, yaitu revolusi ekologi.

Direktur Eksekutif Walhi Berry Nahdian Forqan menyampaikan, revolusi ekologi untuk mewujudkan keadilan ekologi, reformasi agraria sejati, dan industrialisasi nasional. Revolusi ekologi untuk menghadang kepentingan segelintir pemilik modal yang mengeruk sumber daya alam kita dan merusak lingkungannya.

Seperti berlangsung di Dieng sekarang. Keadilan ekologi sulit terwujud akibat reformasi agraria sejati tidak berlangsung. Lahan petani

tidak ditopang tata ruang yang tegas. Lahan petani kian tergusur. Petani terpaksa mendobrak tatanan ekologi, seperti menciutkan, bahkan membabat habis hutan yang ada sebagai pengganti sawah-ladang mereka.

Penggurunan di Dieng mengundang gagasan menghadirkan ”Machu Picchu” Indonesia melalui tatanan candi kuno yang tersisa dari Kerajaan Mataram Hindu abad VIII nan eksotis. Tujuan akhirnya sama dengan revolusi ekologi, yaitu menyelamatkan lingkungan Dieng yang kian merana.

Mampukah pemerintah mencernanya?

sumber





Share:

11/26/2009

Otak Lebih Besar Bukan Berarti Lebih Pintar

Serangga kecil bisa jadi lebih cerdik daripada hewan besar, walau otaknya hanya seukuran kepala jarum, demikian hasil penelitian yang dimuat di jurnal Current Biology edisi 17 November.

Dari penelitian terdahulu para ilmuwan menemukan bahwa hewan besar mungkin perlu otak yang juga besar karena lebih banyak bagian yang harus dikendalikan. Contohnya untuk menggerakkan otot yang lebih besar maka diperlukan saraf lebih banyak dan lebih besar juga. Namun hal itu tak sejalan dengan kecerdasan.

"Pada otak yang lebih besar seringkali tak ditemukan kompleksitas yang lebih, tapi hanya pengulangan dari sirkuit saraf yang sama. Mungkin ini membantu mengingat detil dari citra dan suara, tapi tak menambah tingkat kerumitan pemikiran," kata Lars Chittka, profesor pakar bidang indra dan ekologi perilaku dari Universitas Queen Mary, London. "Analoginya dalam bidang komputer, otak lebih besar itu seperti hard-disk yang besar, tapi bukan prosesor yang lebih canggih."


Argumen mereka sesuai dengan beberapa riset terdahulu yang menyatakan bahwa lompatan kecerdasan manusia jutaan tahun lalu kemungkinan besar bukan karena ukuran semata. Bahkan menariknya, menurut para peneliti lain, ukuran otak manusia malah mengecil seiring evolusi terkini.

Di dunia hewan, perbedaan ukuran otak bisa ekstrim: otak paus bisa berbobot hampir 9 kg, dan berisi lebih dari 200 miliar sel saraf, sementara otak manusia hanya sekitar 1,25 kg hingga 1,45 kg, dan diperkirakan berisi 85 miliar sel saraf. Otak lebah madu malah hanya 1 mg dan sel sarafnya tak lebih dari sejuta.

Meski begitu, Chittka dan koleganya, Jeremy Niven dari Universitas Cambridge berulangkali menemukan penelitian yang membuktikan bahwa serangga mampu berperilaku pintar. Lebah madu misalnya bisa berhitung, mengkategorikan benda-benda yang serupa seperti membedakan anjing atau wajah manusia, memahami konsep 'sama' dan 'beda', dan membedakan bentuk-bentuk simetris dan asimetris.

Walau perkembangan ukuran otak memang ada pengaruhnya pada kemampuan berperilaku pintar pada hewan, kebanyakan perbedaan ukuran hanya terjadi pada bagian tertentu dari otak. Ini seringkali terlihat pada hewan dengan indra yang lebih tajam, seperti pada penglihatan atau pendengaran, atau kemampuan bergerak dengan akurat.

Para peneliti menuturkan bahwa pemikiran 'tingkat lanjut' sebenarnya tak perlu jumlah saraf neuron yang tinggi. Model komputer juga menunjukkan bahwa kesadaran pikiran bisa dihasilkan dengan sirkuit saraf yang sangat kecil, yang secara teoritis muat di dalam otak serangga.

Kenyataannya, model-model komputer ini menyatakan bahwa kegiatan berhitung bisa dilakukan hanya dengan beberapa ratus sel saraf dan hanya beberapa ribu sel saraf cukup untuk menimbulkan kesadaran.

sumber




Share:

8/08/2009

Yaiks..Ternyata Daging Tikus Digemari Di Malawi

Daging tikus merupakan santapan populer di Malawi. Di pasar-pasar Malawi, maupun di kios-kios pinggir jalan, tikus yang sudah dimasak, digoreng kering dan diberi garam, mudah ditemui.

Tikus-tikus yang dikonsumsi adalah jenis tikus ladang. Mereka diburu di ladang jagung pasca panen. Biasanya mereka ditemukan dalam keadaan gemuk karena hewan mamalia ini mengonsumsi butiran jagung, buah, dan serangga.

Spesies tikus yang paling banyak dikonsumsi dalam istilah lokal disebut Kapuku. Kapuku berwarna kelabu dan memiliki ekor lebih pendek dibanding tikus pada umumnya.

Anak-anak muda pemburu tikus lincah menangkap hewan kecil ini. Namun, penduduk lokal juga memiliki jebakan-jebakan inovatif. Salah satu metodenya adalah dengan menggali lubang dan meletakkan pot tanah liat berisi air ke dalam lubang tersebut.

Mulut pot diolesi sekam jagung. Saat calon korban membaui dan mulai memakan sekam itu, mereka akan jatuh ke dalam pot dan tenggelam.

Negara berpenduduk 12 juta jiwa tersebut merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Negara di Afrika Selatan ini rawan wabah penyakit dan kelaparan. Keadaan makin sulit karena bencana kekeringan dan gagal panen selalu datang secara periodik.





Share:

7/05/2009

Pergantian Musim di Indonesia Kian Aneh

Saat ini mulai terjadi anomali (keanehan) batas pergantian musim di Indonesia. Jika dulu jatuhnya musim hujan maupun kemarau hampir selalu bisa diperkirakan, kini hal itu sulit dilakukan. Mengapa? Apa yang sedang terjadi?

Sebagai negara beriklim tropis, warga lazim berpatokan bahwa musim hujan tiba ketika matahari berada di belahan bumi selatan. Yakni, pada Oktober-April. Musim kemarau terjadi ketika matahari berada di sebelah utara khatulistiwa. Itu terjadi pada April-Oktober.

Jika patokan tersebut konsisten, berarti banjir di Jakarta tidak akan terjadi pada Mei. Sebab, saat itu sedang musim kemarau. Faktanya, pada bulan tersebut, Jakarta beberapa kali diguyur hujan deras hingga banjir.

''Tahun ini memang ada anomali dalam penghitungan musim dan itu cukup menyulitkan prediksi,'' kata Kepala Bidang Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Sutamto di Jakarta.

Saat ini, BMG membagi wilayah iklim di Indonesia menjadi tiga zona. Pertama, zona A yang meliputi Indonesia bagian selatan. Terdiri atas, Sumatera Selatan, Jawa hingga Pulau Timor, Kalimantan, Sulawesi, serta sebagian Papua.

Kedua, zona B yang meliputi Indonesia bagian barat laut. Di antaranya, Sumatera Utara sampai bagian tenggara. Keempat, zona C yang meliputi Maluku dan Sulawesi Utara. ''Setiap wilayah mempunyai rentang musim hujan dan kemarau yang berbeda-beda,'' terangnya.

Zona A, lanjut dia, mempunyai puncak musim hujan pada Januari dan puncak musim kemarau pada Agustus. Zona B mempunyai dua puncak musim hujan, yaitu April dan November, serta puncak musim kemarau Februari dan Juli.

Zona C mempunyai puncak musim hujan pada Juni-Juli dan puncak musim kemarau November atau Februari. ''Tapi, kini patokan tersebut kerap bergeser karena adanya banyak faktor anomali alam,'' paparnya.

Di sebagian besar wilayah Indonesia, musim hujan tahun ini diprediksi mundur satu hingga dua bulan dari normal. Sebab, awal musim hujan baru dimulai akhir November 2008. Padahal, kondisi normal hujan paling awal terjadi pada awal September.

Kawasan yang periode hujannya normal hanya wilayah Sumatera bagian utara serta sebagian wilayah perbatasan Kalimantan Utara dan Papua. Diperkirakan, anomali itu akan dialami 60 persen di antara 220 daerah atau zona prakiraan musim di Indonesia.

Menurut Sutamto, anomali tersebut disebabkan terjadinya fenomena penghangatan suhu muka laut di selatan Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara, termasuk Laut Jawa dan perairan barat Kalimantan. ''Suhu muka laut di kawasan itu menghangat hingga 1,5-2 derajat celsius dari normal. Akibatnya, penguapan dan pembentukan awan memicu kejadian hujan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Nusa Tenggara meningkat tajam,'' urainya.

Stasiun Meteorologi Jatiwangi, Majalengka, memperkirakan musim hujan semula berakhir Mei 2009. Namun, ternyata mundur sampai pertengahan-akhir Juni 2009 ini. Perkiraan pergeseran itu dilakukan dengan melihat gelagat musim yang berlangsung di seluruh Pulau Jawa. Sampai pertengahan Juni, hujan masih sering turun.

Berdasar estimasi BMG, awal musim kemarau 2009 di 220 zona musim (zom) diperkirakan dimulai secara bervariasi. Beberapa zom di Bali, NTB, dan NTT mengalami musim kemarau sejak Maret lalu. Sementara itu, di ujung batas zona di Kotabaru bagian tenggara (Kalimantan Selatan), musim kemarau baru dimulai Agustus 2009.

''Secara keseluruhan, jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun terakhir, awal musim kemarau 2009 umumnya mundur,'' ujar prakirawan BMG Muhamad Ali Mas'at.

Kemunduran tersebut terjadi karena suhu permukaan laut, terutama di Laut Jawa, masih relatif panas, sehingga penguapan masih tinggi dan mengakibatkan banyak hujan. Diperkirakan, suhu permukaan air laut bisa mencapai 31 derajat celsius. ''Hal itu berpotensi menimbulkan awan sangat tinggi dengan curah hujan 200-400 milimeter per bulan,'' jelasnya.

Pakar Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Armi Susandi mengungkapkan, pemanasan global telah mengakibatkan semakin tidak meratanya pola temperatur dan tekanan udara secara spasial (ruang). Perbedaan temperatur terjadi di daerah subtropis maupun daerah tropis yang mengakibatkan terjadinya pergerakan udara.

Semakin tinggi perbedaan tekanan udara karena perbedaan temperatur, semakin kencang angin yang ditimbulkan dan bisa melahirkan badai pada lintang tertentu. Perbedaan temperatur yang ekstrem dapat memicu munculnya cuaca ekstrem. ''Perhitungan musim tanam dan musim melaut tidak lagi presisi. Bencana pun selalu datang, baik pada musim kemarau maupun musim hujan,'' terangnya.

Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Suparto Wijoyo menegaskan, fenomena anomali cuaca tersebut dipicu oleh pemanasan global. Menurut dia, dalam dimensi sejarah peradaban pemanasan global, hal itu dipahami sebagai produk dari revolusi industri. ''Secara faktual, pergeseran musim karena perubahan iklim merupakan realitas yang mesti disikapi,'' tegasnya.

Jika problem iklim itu tidak diimbangi kesadaran seluruh penduduk Indonesia, kerugian bisa mencapai triliunan rupiah. Menurut dia, bila pemanasan global terus tidak terkendali, akibat yang dirasakan Indonesia adalah tenggelamnya empat ribu pulau dalam kurun setahun.

Hingga kini ditemukan sudah 23 pulau di tanah air tenggelam. ''Lalu, berapa harga satu pulau itu? Jika satu pulau dihargai satu triliun, bisa dihitung berapa kerugian saat ini,'' ujarnya.

sumber: jawapos




Share:

6/26/2009

VOTE!! PULAU KOMODO MENJADI 7 KEAJAIBAN DUNIA BARU

Setelah Candi borobudur tidak masuk dalam kategori Tujuh Keajaiban Dunia, kini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI berjuang keras agar Taman Nasional Pulau Komodo bisa masuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia kategori taman nasional. Jika target ini tercapai, akan berdampak besar terhadap industri pariwisata, karena wisatawan mancanegara diyakini akan banyak berkunjung ke Indonesia.

Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Sapta Nirwandar mengatakan, Candi Borobudur ternyata kalah populer secara internasional, sehingga melalui suatu voting melalui internet yang diadakan New7wonder Foundation, Candi Borobudur tak masuk dalam kategori Tujuh Keajaiban Dunia. "Sekarang ada voting lagi, dan Indonesia menjagokan Taman Nasional Pulau Komodo," ujarnya, Sabtu (21/2) di Jakarta.

Data yang dihimpundari situs www.new7wonder.com menyebutkan, sebanyak 222 negara mendominasikan 261 daerah-daerah tujuan wisata, untuk memperebutkan tujuh kategori keajaiban dunia. Hingga 7 Juli 2009, voting untuk menetapkan 77 unggulan, peringkat 1-11 untuk tujuh kategori. Dari 77 diperas lagi menjadi 21 kandidat atau tiga kandidat masing-masing kategori. Setelah itu, bulan September 2009 pihak New7wonder Foundation baru ditetapkan Tujuh Keajaiban Dunia.

Hasil voting sampai tanggal 16 Februari 2009 pukul 09.37 yang dipantau di situs new7wonder.com, hari Minggu (22/2), Taman Nasional Pulau Komodo berada sementara di peringkat 13 di kategori kelompok E (forest/national park/nature reserves). Peringkat 1-12 sementara kategori ini adalah berturut-turut Puerto Princesa, Amazon, Sundarbans Forest, Tree of Life, Bialowieza Forest, Balck Forest, Retezat National Park, Dinosaur Park, Christmas Island, Eua National Park, Okawango Delta, dan El Kala National Park.

Sapta Nirwandar menjelaskan, kesadaran masyarakat dunia untuk menjadikan obyek wisata alam unggulannya terpilih sebagai Tujuh Keajaiban Dunia sudah tinggi. Di Italia, misalnya, restoran dan tempat wisata menyediakan internet gratis agar bisa mengakses situs yayasan itu untuk ikut memilih langsung.

Sedangkan di Indonesia, pihaknya akan menyosialisasi kegiatan ini melalui kegiatan musik yang akan dilakukan oleh Dwiki Dharmawan dengan orkestranya pada Mei 2009. Masyarakat yang sudah melek internet diharapkan mau berpartisipasi dan mendukung Taman Nasional Komodo masuk objek kategori Tujuh Keajaiban Dunia.

"Kalau mulai sekarang masyarakat Indonesia serentak mendukung maka Insya Allah pada Juli 2009, Komodo bisa masuk ranking 11 dunia dan September baru ditetapkan pemenangnya," jelas Sapta.

Pengamat pariwisata Ridwan Tulus yang dimintai tanggapannya, Minggu (22/2) mengatakan, pengguna internet sedikitnya ada 13 juta orang. Jika jumlah yang besar ini bisa berpartisipasi mengisi form voting, maka Taman Nasional Pulau Komodo dipastikan bisa masuk Tujuh Keajaiban Dunia kategori taman nasional.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata harus gencar mempromosikan dan menyosialisasikan tentang voting ini. Jika gagal masuk Tujuh Keajaiban Dunia, berarti Depbudpar gagal. Sosialisasi bisa melalui BUMN, komunitas, lembaga pendidikan, dan banyak cara lainnya, kata Ridwan Tulus, yang juga Presiden Asosiasi Wisata Jalan Kaki Asia-Pasifik.(kompas)

VOTE DISINI
Share:

6/21/2009

Para 'Penjajah' Tanpa Senjata

Mulanya binatang itu didatangkan sebagai biota air tawar yang lucu dan menggemaskan. Itulah keong- keong emas dari genus Pomacea. Keong itu hadir di Indonesia pada tahun 1980-an. Keong-keong itu lalu banyak menghuni akuarium-akuarium di rumah- rumah atau kantor. Lucu dan menggemaskan.

Tak butuh waktu lebih dari lima tahun ketika akhirnya kegemparan datang dari para petani di Sukabumi dan Tangerang. Lahan sawah subur mereka diserang keong. Pada 1984 mulai ramai istilah keong emas.

Keong-keong itu tak lucu lagi tak pula menggemaskan. Sebaliknya, memunculkan horor dan teror karena merusak padi.


Peneliti moluska air tawar pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ristiyanti Marwoto, menyebut tak semua jenis keong dari genus Pomacea menjadi hama. Yang sudah diidentifikasi yaitu Pomacea canaliculata—dari Brasil, negara tropis yang banyak kemiripannya dengan Indonesia.

Tak hanya Indonesia, keong yang mulanya dipelihara sebagai binatang piaraan itu telah menjadi hama pertanian di Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Filipina, hingga Korea Selatan. Seperti di Indonesia, upaya pemberantasan keong sebagai hama di negara-negara itu tak juga tuntas.

Di sawah, keong-keong itu tak hanya berwarna keemasan, tetapi juga kecoklatan dan kehijauan. Cirinya adalah menempelkan ratusan telurnya di batang- batang padi, tanaman liar, atau tanaman lainnya.

Kepala Puslit Biologi LIPI Siti Nuramaliati Prijono menyatakan, keong-keong emas impor itu adalah salah satu jenis tanaman asing invasif. ”Penjajah” dari negeri asing.

Jenis asing invasif

Jenis asing invasif adalah jenis flora dan fauna termasuk mikroorganisme yang berkembang pesat di luar habitat alaminya. Karena tak ada musuh alami, binatang itu jadi hama, gulma, serta menebarkan penyakit pada flora dan fauna asli.

Di Indonesia, sebagai kompetitor, predator, patogen, dan parasit, jenis-jenis asing invasif itu dapat memunahkan jenis asli. ”Dalam skala besar akan merusak ekosistem asli,” kata Siti.


Ikan aligator


Ikan aligator (Lepisus peus) berasal dari perairan tawar Amerika Latin. Pemakan segala, tetapi cenderung karnivora dengan berat tubuh bisa lebih dari 70 kilogram. Tahun 2008, ikan aligator atau buaya itu ditemukan penambang pasir di Sungai Citarum. Beratnya mencapai 90 kg dengan panjang tubuh 1,70 meter dan diameter 80 cm.


Ikan sapu-sapu

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) banyak dijumpai di sungai-sungai air tawar. Ikan ini berasal dari kawasan Amerika bagian selatan dan tahan terhadap kondisi air berpolutan.

Setidaknya ada empat jenis lagi ikan dari Amerika bagian selatan yang ada di Indonesia, seperti si ganas ikan piranha (Pygocentrus nattereri), si gigi runcing ikan bawal hitam (Colossoma macropomum), si petarung ikan oskar (Astronotus ocellatus), dan araipaima (Arapaima gigas).


Serangga penyerbuk
Liriomyza sativae, Liriomyza huidebrensis, dan Liriomyza trofolii.
Serangga ini justru merusak antara lain tanaman tomat, kentang, bawang, merah, dan kacang panjang.

Menurut peneliti serangga LIPI, Rosichon Ubaidillah, tanaman yang diserang serangga itu langsung mati dalam waktu kurang dari dua pekan.

Temuan terbaru, hama pepaya (mealy bug) atau Paracoccus marginatus, ditemukan tahun 2008. Hama ini menyerang buah pepaya dengan serbuk putih. Belakangan juga menyerang jenis buah lain dan bunga hias. Secara umum, efek domino serangan hama-hama itu berdampak pada ketahanan pangan dan ekonomi nasional.


Flora invasif

Di Indonesia, jenis flora asing mencapai sekitar 2.000. Salah satu jenis invasif yang legendaris adalah eceng gondok (Eichornnia crassipes) yang merebak sekitar tahun 1990 dengan daya tarik bentuk dan warna bunganya yang ungu cerah.

Belakangan, tanaman air yang mudah berkembang pesat itu menjadi pengganggu. Sebarannya yang masif tak hanya mengganggu transportasi air, tetapi juga menyebabkan sedimentasi dan mematikan plankton.



Jenis akasia(Acacia nilotica)
Saat ditanam di Taman Nasional Baluran, Jatim, tanaman ini semula untuk melindungi padang savana, makanan utama banteng, dari bahaya kebakaran.

Perkembangannya masif, hingga 200 hektar per tahun, kini mempersempit padang rumput. Hingga tahun 2000, akasia menginvasi 50 persen, sekitar 5.000 ha, padang savana dan mengancam keberadaan banteng.




Jenis lamtoro(Leucaena leucocephala)
Ditanam massal pada masa Orde Baru dan kini memunculkan risiko. Pemerintah harus mendatangkan serangga dari Hawaii, musuh alami kutu loncat, yang merebak seiring dengan hadirnya lamtoro.




Aster
Aster (Eupatorium sordidum) dari Meksiko di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, kini menutupi lantai hutan tempat tumbuh tanaman obat dan satwa lain. ”Sekarang sangat mengganggu, tetapi sulit diatasi,” kata peneliti botani LIPI, Sunaryo, yang pada April 2009 meneliti di sana. Setidaknya ada delapan jenis flora asing invasif di tempat itu.

Flora dan fauna asing invasif di atas hanya contoh kecil dari ribuan jenis yang saat ini ada di Indonesia. Tak ada satu pun yang didatangkan dengan maksud merusak, tetapi kelemahan pengetahuan dan informasilah yang menyebabkan ancaman.

Tak ada yang tahu, episode macam apa dari maraknya penjualan kura-kura brasil yang mungkin lucu nan menggemaskan. Akankah menambah deret getir akan kehadiran para ”penjajah” tak bersenjata?

sumber
Share:

6/07/2009

Tumbuhan pun Bisa Mengenali Saudaranya

Tak hanya manusia yang bisa mengenali dan menunjukkan kasih sayang dengan saudaranya, tumbuhan pun demikian. Ilmuwan dari Universitas California, Amerika dan Universitas Kyoto, Jepang telah menemukan sifat alamiah tumbuhan yang unik ini.

Richard Karban dan Kaori Shijiori mencoba mengadakan penelitian dengan cara menyetek tumbuhan bernama Artemisia tridentate. Tumbuhan ini merupakan jenis sagebrush yang normalnya tidak bereproduksi dengan memperbanyak diri.

Sebagian potongan stek ditempatkan di dekat tumbuhan induk yang merupakan satu klon dan satu genetik. Sementara sebagian lainnya didekatkan dengan sagebrush yang bukan berasal dari genetik yang sama.

Tanaman ini kemudian dibiarkan tumbuh liar di Sagehen Creek Natural reserve di Universitas California. Para peneliti memotong setiap klon yang mereka tanam, seolah-olah itu adalah kerusakan yang disebabkan oleh herbivora alami seperti belalang.


Setelah dibiarkan tumbuh selama satu tahun, tanaman yang tumbuh di samping klon mereka yang mengalami kerusakan, lebih sedikit menderita kerusakan yakni 42 persen lebih sedikit dari mereka yang tumbuh di dekat tanaman rusak yang tidak satu genetik.

Tanaman-tanaman yang dipotong ini sepertinya memberikan sinyal kepada saudara mereka yang identik secara genetik bahwa ada serangan yang mengancam. Sehingga tanaman yang diberikan sinyal segera melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri. Tetapi mereka tidak memperingatkan tanaman lain yang tidak satu genetik dengannya. Demikian keterangan yang dikutip dari BBC, Minggu (6/6/2009).

"Saya rasa tanaman saling berkomunikasi menggunakan bahan kimia yang mudah menguap. Ketika satu tanaman dipotong atau diserang herbivora, dia akan mengeluarkan bahan kimia ini ke udara," kata Karban.

Karban dan Shijiori sepakat menyimpulkan bahwa pelepasan bahan kimia ini ditujukan untuk memperingatkan tanaman-tanaman disekitarnya agar membela diri.

"Mereka akan mencoba menangkal serangan dengan mengisi daun-daun mereka dengan bahan kimia berbahaya atau dengan menggerakkan batang dan daun untuk membuatnya terlihat tidak enak," kata Shijiori

SUMBER




Share:

1/24/2009

CAR FREE DAY DI SURABAYA

Setelah Jakarta, kini Surabaya mulai berbenah, mengetahui dampak global warming dewasa ini Pemerintah kota Surabaya menerapakan CAR FREE DAY atau hari bebas kendaraan bermotor. Minggu ini jalanan yang dijadikan kampanye CAR FREE DAY tampak lengang karena memang biasanya dijubeli ribuan motor dan mobil tiap harinya. Udara pagi tentu akan terasa lebih bersih, segar dan sehat. Jalanan yang biasanya dipenuhi macetnya kendaraan bermotor, minggu ini dijadikan arena bermain anak, seperti lomba mewarnai, main layang-layang,bersepeda, skateboard dan kebanyakan warga memilih nongkrong di jalan dengan teman dan keluarga.

Jelas event seperti ini pantas digalakkan dan di terapkan diKota-kota lain di Indonesia terutama yang terkenal dengan polusinya. Karena dapat menekan angka polusi yang cenderung tinggi akhir-akhir ini. Jika kota-kota besar di Indonesia bersosialisasi bersama masyarakat untuk menyelenggarakan event ini tentu kita akan membantu bumi untuk sedikit bernafas dan meminimalisir polusi demi kesehatan kita. Bukan hal yang aneh lagi kalau dewasa ini kualitas udara kita yang kita hirup sangat rendah sehingga tubuh kita rentan terhadap berbagai penyakit.
Jadi harapan saya event ini dapat dijadikan event mingguan wajib yang diselenggarakan oleh masing- masing pemerintah kota. Dan kelak kita akan dapat menikmati hasilnya yaitu alam yang bersih dan lestari jauh dari polusi.


Share:

6/19/2008

Proyek Olah Sampah Senilai Rp 184 Miliar

Berita Utama
[ Kamis, 05 Juni 2008 ]

Di Bali, problem sampah sedang ditangani secara serius melalui proyek IPST (Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu) Sarbagita. Nama Sarbagita merupakan singkatan dari empat daerah: Kotamadya Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan. Proyek senilai USD 20 juta (sekitar Rp 184 miliar) tersebut memang merupakan sinergi dari empat pemda itu.

Pembangunan proyek tersebut dimulai pada September 2007 oleh Gubernur Bali Dewa Beratha. Ditargetkan, dua tahun mendatang, pembangunan sudah rampung. ''Proyek itu satu-satunya di Indonesia,'' kata Wakil Bupati Badung I Ketut Sudikerta.

Selain penanganan sampah, target kerja sama lainnya adalah pembangunan infrastruktur dan proyek air bersih.

Memang, sebelum proyek tersebut dibangun, sampah di empat daerah itu sempat menjadi problem serius. Hal itu wajar. Sebab, jumlah sampah di empat daerah tersebut cukup besar. Badung misalnya, setiap hari bisa menghasilkan 1.300 meter kubik sampah.

Padahal, Badung selama ini berbagi tempat sampah dengan Denpasar di TPA (tempat pembuangan akhir) Suwung, Denpasar Selatan. Namun, daya tampung di Suwung semakin menyusut.

Dari situlah usul mengelola hasil sampah keempat kabupaten yang tergabung dalam Sarbagita itu tercetus. (lebih lanjut tentang IPST Sarbagita, baca grafis)

Di IPST tersebut nanti juga dibangun fasilitas pengolahan sampah terpadu. Untuk selanjutnya, setiap hari mengolah sampah seperti menjadi biogas. Biogas itulah yang kemudian dijual kepada PLN, untuk selanjutnya diubah menjadi tenaga listrik.
Share:



IndoBanner Exchanges

MY ID YAHOO MASSENGER

view

http://bacablog.com

About Me

Foto saya
Aku adalah anak manusia yang hanya numpang singgah di bumi ini. Kini aku sedang mengisi dan melakukan sesuatu untuk mengisi waktuku di dunia ini EMAIL & FS jOIN ON adaeuvoli@gmail.com

Pengikut

Personal Business Directory - BTS LocalDigNow.orgTopOfBlogs Personal My BlogCatalog BlogRank live google page rank
Personal Blogs - Blog Catalog Blog Directory
EasyHits4u Ranking Blogger Ngalam
Masukkan Code ini K1-2C333A-A
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com!-- Histats.com START --> Check Google Page Rank

ADAMAKNA

BLOGGER INDONESIA

ABSEN DISINI


ShoutMix chat widget
Bisnis Internet | Bisnis Online | Uang dari Internet |  Duit gratis | komisi 80%
Earn money from your website/blog by, selling text links, banner ads - Advertisers can, buy links, from your blog for SEO. Get paid through PayPal

Blogger templates

Blogger templates